Pertanyakan Validitas Data Angka Kemiskinan

GUNUNGKIDUL – Pemkab Gunungkidul menaruh perhatian serius terhadap program pengentasan kemiskinan. Terutama di Kecamatan Saptosari, Tanjungsari, dan Gedangsari. Sebab, tiga kecamatan itu dalam dokumen Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) 2019 disebut sebagai wilayah termiskin di Bumi Handayani. Kecamatan Saptosari berada di urutan terbawah disusul Kecamatan Tanjungsari.

Predikat itu dilekatkan kepada Kecamatan Saptosari karena sejumlah faktor. Yang paling mencolok adalah tingkat kesejahteraan individu. Persentase individu miskin di kecamatan yang memiliki dua objek wisata (obwis) pantai mashur ini di angka 67,47 persen.

Kecamatan Tanjungsari satu strip di atas Saptosari. Persentase individu miskin di kecamatan ini di angka 63,82 persen. Satu strip di atasnya lagi adalah Kecamatan Gedangsari. Persentasenya 61,78 persen.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Gunungkidul Sri Suhartano mengungkapkan, predikat kecamatan termiskin berasal dari data yang diolah Pemprov dan Badan Pusat Statistik (BPS) Gunungkidul. Dengan mengacu data ini, pemkab menggulirkan seabrek program penanggulangan kemiskinan di tiga kecamatan itu.

”Diupayakan penanggulangan kemiskinan dengan program kegiatan OPD (organisasi perangkat daerah). Misalnya, OPD dan kecamatan ada kegiatan jamban sehat,” kata Sri saat dihubungi kemarin (5/11).

Dokumen KUA-PPAS 2019 itu juga membeberkan daftar kecamatan terkaya. Predikat kecamatan terkaya alias tingkat kesejahteraan individu warganya tinggi adalah Wonosari. Disusul Kecamatan Patuk, Playen, Karangmojo, Ngawen, Purwosari, Ponjong, Semin, Paliyan, Semanu, Girisubo, Rongkop, Tepus, Panggang, dan Nglipar.

Mendengar informasi ini, Camat Saptosari Jarot Hadiatmojo cukup kaget. Sebab, antara data dan fakta di lapangan berbanding terbalik. Kecamatan Saptosari sudah lama berbenah meningkatkan kesejahteraan warganya. Bahkan, saat ini memiliki dua obwis mashur. Di antaranya, Pantai Ngobaran. Kendati begitu, Jarot santai menanggapinya.

”Saya tertawa melihat data itu. Dari dulu memang begitu, wilayah kami disebut termiskin. Padahal wisata kami berkembang luar biasa,” ucapnya.

Menurutnya, kecamatan yang memiliki tujuh desa dan 60 pedukuhan ini juga terus memperbaiki sarana dasar. Seperti akses jalan dan air bersih. Juga mengembangkan industri kecil.

”Pernikahan dini sudah tidak ada. Angka putus sekolah juga telah turun banyak,” ungkap Jarot menyebut pemkab juga sedang membangun RSUD di Saptosari.

Seperti Jarot, Camat Tanjungsari Rahmadian juga santai menanggapinya. Namun, Rahmadian mempertanyakan validitas angka kemiskinan itu. Apakah sesuai dengan kondisi di lapangan atau tidak.

”Bagi saya dicap kaya atau miskin nggak masalah. Yang penting adem ayem. Masyarakat giat membangun dan bersama-sama mensukseskan visi misi Kabupaten Gunungkidul,” katanya enteng. (gun/zam/fj/mo2)