MUNGKID – Upaya lebih meningkatkan produksi batik magelangan, kalangan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Kabupaten Magelang meminta ada kebijakan pemerintah. Hal itu tidak lepas dari fenomena perbatikan di kabupaten ini yang relatif tertinggal dibandingkan wilayah lain. Salah satu tolak ukurnya, kurangnya antusias warga masyarakat untuk mengenakan batik khas Magelang itu sendiri, terutama di lingkungan Pemkab Magelang.

“ASN Pemkab Magelang belum banyak yang mengenakan batik asli buatan Kabupaten Magelang sendiri. Padahal daerah lain, mereka sudah mengenakan baju batik asli buatan daerahnya masing-masing. Contohnya Kota Magelang, Purworejo, Temanggung, Kulonprogo, dan Sleman,” ujar ketua paguyuban pembatik di Desa Gunungpring, Muntilan, Hayatini Siswiningrum, Senin.

Hayatini mengemukakan hal itu saat menerima rombongan Penjabat (Pj) Sekda Pemkab Magelang Endra Endah Wacana didampimgi Kabag Humas Protokol Purwanto dan pejabat lain. Dijelaskan, paguyuban saat ini mempunyai anggota 23 pembatik. Masih ditambah pembatik-pembatik baru yang belum menjadi anggota

“Untuk langkah awal, paling tidak ASN di Pemkab Magelang bisa mengenakan batik asli buatan Kabupaten Magelang. Kemudian bisa dilanjutkan pada instansi-instansi pendidikan atau yang lainnya.  ini semua untuk mengangkat citra batik asli Kabupaten Magelang,” harapnya.

Soal kendala, Hayatini mengemukakan soal pemasaran. Bahkan diyakini kalau dari sisi kualitas batik Kabupaten Magelang tidak kalah dengan batik wilayah lain. Hal itu terlihat dari antusias masyarakat saat batik-batik Kabupaten Magelang dipamerkan di Jakarta, Bandung, bahkan hingga Kalimantan.

“Terus terang saja kami masih belum berani menggaji tenaga kerja secara tetap. Hal itu juga tergantung oleh pesanan yang diterima, sehingga kami hanya mempekerjakan 3-4 karyawan saja sehari-hari,” tuturnya.

Dijelaskan, salah satu ciri khas batik Kabupaten Magelang adalah batik mandala. Dikembangan dalam bentuk batik cap, eco print, dan batik lukis. Untuk harga, berkisar antara Rp 150 ribu-Rp 200 ribu.

“Kualitasnya sudah sangat baik, tidak gampang luntur meski dicuci dengan mesin cuci. Untuk perawatannya pun cukup mudah, asal tidak terlalu lama dijemur,” jelasnya.

Endra Endah Wacana membenarkan, kualitas produk batiknya tidak kalah dengan daerah lainnya. Dia berharap sektor pariwisata bisa menjadi salah satu cara untuk mengangkat batik asli Kabupaten Magelang itu. Hal ini didasarkan data, tiap tahunnya terdapat 2,8 juta pengunjung yang hadir di kawasan Candi Borobudur.

“Kami akan bersama-sama mempromosikan batik itu agar lebih dikenal oleh masyarakat. Sehingga nantinya dapat menggerakan ekonomi kreatif pada masyarakat juga,” janji Endra.

Peluang pemasaran batik juga bisa dikaitkan dengan keberadaan adanya 19 Balai Ekonomi Desa (Balkondes) di Kabupaten Magelang. Pembatik bisa berkoloraborasi dengan para pengelola Balkondes soal  even maupun pelatihan pembatik bagi pengunjung.

“Soal harapan ASN memakai batik Kabupaten Magelang, nanti kami akan bicarakan bersama terkait kualitas, motif, dan apa yang diinginkan para kepala SKPD. Setelah itu, maka akan dibuat regulasinya,” tandas Endra. (dem/laz/er/mo2)