Warga Kirab Gunungan dari Apem, Lemper dan Buah

Ratusan warga Gondolayu,  Cokrodiningratan,  Jetis, Yogyakarta  menggelar  Kirab Budaya Saparan kemarin (4/11). Kirab budaya yang diadakan setiap bulan Sapar sesuai penanggalan Tahun ini dimulai sekitar pukul 15.00. Dalam kirab itu, warga mengarak aneka gunungan terbuat dari apem, lemper dan buah-buahan.

Kegiatan yang didukung Dinas Pariwisata DIY ini mendapatkan atensi khusus dari Wakil Ketua Komisi B DPRD DIY Dwi Wahyu Budiantoro. Dia mengapresiasi Kirab Budaya Saparan Gondolayu tersebut. Apalagi, acara tersebut telah berlangsung beberapa kali sejak 2016 silam. “Saparan Gondolayu ini harus menjadi acara rutin pariwisata di Kota Jogja dan masuk agenda tahunan,” ujar Dwi Minggu (4/11).

Dwi juga mengapresiasi tingginya partisipasi warga. Ini membuktikan warga Gondolayu  tetap melestarikan semangat gotong rotong. Tanpa adanya semangat itu, kirab budaya itu sulit terlaksana. “Kesadaran warga ini menjadi modal sosial yang luar biasa,” katanya.

Ketua Panitia Kirab Budaya Saparan Gondolayu  Muhammad Salman Hidayat menjelaskan, tujuan kegiatan tersebut. Di antaranya, sebagai wujud ungkapan syukur kepada Sang Pencipta. Dia juga mengajak warga senantiasa mendekatkan diri agar selalu dalam naungan dan lindungan-Nya. “Mohon dijauhkan dari bencana dan mohon kesejahteraan lahir dan batin,” ujar Salman.

Kirab budaya itu sekaligus dimaksudkan sebagai ajang silaturahmi.  Perekat persatuan dan kesatuan umat. Makanan yang dibuat gunungan, kata pensiunan guru itu, memiliki beberapa filosofi. Buah-buahan menyimbolkan kesehatan,  sehingga warga sehat dan panjang umur.  Sedangkan apem perlambang saling memaafkan.

“Adapun lemper sebagai perekat persatuan warga agar tidak terpecah saat tahun politik dan menjelang  pemilu,” terang dia.

Sebelum dikirab, gunungan dan buah-buahan lebih dulu didoakan di  Masjid Baitul Hikmah. Selanjutnya diarak dengan rute Kampung Gondolayu ke utara melewati Jalan Walter Monginsidi. Lalu berlanjut ke Jalan Magelang, perempatan Pingit, Jalan Diponegoro, Jalan Soedirman dan kembali ke Kampung Gondolayu.

Pelaku Wisata Jogja Adinda Tetrasari mengatakan, Jogja saat ini semakin banyak even pariwisata. Ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan berkunjung. Langkah yang diperlukan dewasa ini  adalah menyinergikan antara budaya dan pariwisata. Salah satunya seperti Kirab Saparan Gondolayu . “Ini acara adat dengan semangat religi,” ujar Dinda.

Dengan adanya kirab budaya itu, wisatawan menjadi tahu. Khususnya para tamu yang menginap di sekitar kawasan Gondolayu. Maklum di rute yang dilewati kirab itu bertebaran banyak hotel berbintang. “Wisatawan yang tertarik akan menyaksikan kirab budaya ini,” lanjut dia.

Dengan Kirab Saparan itu membuktikan jiwa guyub dan rukun tetap terpelihara. Harapannya dari acara itu memberikan dampak langsung maupun tak langsung bagi perekonomian warga. “Selama acara, warga bisa membuka gerai kuliner dan aktivitas ekonomi  tetap berjalan,” tuturnya. (riz/kus)