Hari Jadi Purworejo Tinggal Tentukan Tanggal

PURWOREJO – Hari Jadi Kabupaten Purworejo selama ini diperingati 5 Oktober. Tahun depan akan berganti tanggalnya. Pansus DPRD Purworejo tinggal menentukan tanggal. Karena bulan dan tahunnya sudah ada.

Demikian disampaikan Ketua Pansus Sutarno usai hearing tentang hari jadi Kabupaten Purworejo, akhir pekan lalu. Hearing menghadirkan narasumber dari UGM dan Universitas Semarang (USM) serta Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Purworejo Agung Wibowo.

“Bulannya Februari, tahunnya 1831,” kata Sutarno.

Hasil kajian USM, tanggal 26 atau 27 menjadi pilihan utama. Karena di tanggal itulah Purworejo mulai dikenalkan kepada publik. Sedangkan kajian UGM, tanggal 23 Februari 1831, Purworejo resmi dituangkan dalam ketetapan adanya Pemerintahan Purworejo.

“Akan kami komparasikan. Sehinggga nanti tanggalnya benar-benar pas. Bisa diterima semua pihak,” kata Sutarno.

Kedua kajian tersebut saling melengkapi. USM lebih pada pengumumannya. Sedangkan UGM mengarah pada proses penamaan. Pihaknya akan melakukan pencermatan sebelum menentukan tanggal yang tepat.

“Dari hearing kami juga mendapatkan masukan jika sebaiknya Perda Hari Jadi Purworejo yang sekarang berlaku dicabut dulu sebelum ditetapkan Perda Hari Jadi yang baru,” kata Sutarno.

Pihaknya memang sangat hati-hati menentukan hari jadi Purworejo. Karena merupakan keputusan politik yang akan disorot banyak pihak.

Salah seorang peserta hearing, Ahmad Fauzi menyarankan untuk menyampaikan alas an perubahan hari jadi. ‘’Jadi jangan sekadar orang ngomong terus menjadi asas legalisasi,” ujar Ahmad.

Sepengetahuan dia, dasar penentuan hari jadi yang berlaku saat ini karena dari tiga prasasti yang diajukan, hanya Prasasti Kayu Arahiwang yang terbaca. Padahal masih ada dua prasasti lain yang lebih tua dari Arahiwang. Yakni prasasti yang ditemukan di Kecamatan Butuh serta Prasasti Kaliurip di Kecamatan Bener.

“Sayangnya kedua prasarti itu tidak bisa terbaca hurufnya. Sehingga ditentukan Arahiwang sebagai tanda Hari Jadi Purworejo,” jelas Ahmad.

Dia meminta penentuan hari jadi yang tengah dibahas bisa benar-benar pas. Tidak sekadar menyenangkan salah satu pihak.

Ketua Polosoro Purworejo Dwi Dharmawan mengatakan penentuan hari jadi tidak saja didasarkan pada penggabungan Kadipaten Purworejo dan Kadipaten Kutoarjo. Keberadaan Bruno tidak bisa dilepaskan dari bagian Purworejo, seharusnya bisa diakomodir. “Bruno itu memiliki sejarah panjang dan tidak terpisahkan dari Purworejo,” kata Dwi. (udi/iwa/er/mo2)