Produk Makanan Olahan Perikanan

Alih Teknologi Informasi (ATI) produk perikanan memberikan peluang bagi ibu-ibu rumah tangga membuka unit usaha baru. Terutama untuk jenis makanan olahan. Potensi pasar untuk menerima aneka makanan olahan dari ikan terbuka luas.

“Sekarang pertanyaan, ibu-ibu ini bersedia menangkap peluang itu, apa tidak. Mau serius ikut pelatihan atau tidak. Kalau sekali ikut, terus kelompoknya bubar, ya percuma,” ujar Wakil Ketua Komisi B DPRD DIY Dwi Wahyu Budiantoro di depan peserta pelatihan Alih Teknologi Informasi (ATI) Dinas Kelautan dan Perikanan DIY di Balai RW 10 Suryodiningratan, Mantrijeron, Yogyakarta pada (2/11).

Pelatihan diikuti tak kurang 50 orang ibu-ibu rumah tangga. Mereka adalah kader-kader Posyandu maupun PKK yang berasal dari tiga kecamatan. Yakni Kecamatan Mantrijeron, Wirobrajan dan Kecamatan Gedongtengen.  “Sengaja dari tiga kecamatan itu disatukan,” lanjut Dwi.

Dia ingin setelah mengikuti pelatihan itu, peserta secepatnya membentuk kelompok. Pelatihan lanjutan akan diberikan kepada mereka yang benar-benar serius. Contoh  produksi makanan ikan olahan juga telah tersedia. Pemda DIY memiliki unit kerja untuk kegiatan tersebut di Jalan Menteri Supeno Jogja.

Dwi menilai ATI produk perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan DIY tepat untuk menyosialisasikan sekaligus membudayakan mengonsumsi ikan. Karena itu, gerakan  memasyarakatkan makan ikan atau Gemari harus dimulai dengan mengenalkan berbagai jenis ikan.

INDUSTRI RUMAHAN: Wakil Ketua Komisi Ketua Komisi B DPRD DIY Dwi Wahyu Budiantoro mendorong ibu-ibu rumah tangga membuka usaha makanan olahan ikan.
(ISTIMEWA)

Anggota dewan yang tinggal di Gedongan Kotagede ini berpesan agar para peserta serius mengikuti pelatihan. Ilmu cara mengolah ikan dapat dikembangkan dengan membentuk unit-unit usaha pengolahan ikan.

Kegiatan ATI produk perikanan memberikan informasi banyak hal mengenai ikan. Khususnya manfaat makan ikan. Pesan itu disampaikan Kepala Seksi Pengolahan Pemasaran Bidang Bina Usaha Dinas Kelautan dan Perikanan DIY Endang Supraptiningsih.

Endang mengatakan selama berpuluh tahun dibangun mitos agar masyarakat tidak gemar ikan. Mitos itu terjadi sejak era penjajahan Belanda hingga Jepang. “Tujuannya agar orang Indonesia tidak makan ikan. Ikannya diambil penjajah dijual ke luar Indonesia,” ujar Endang.

Dia juga mengajak masyarakat tidak lagi memercayai ikan tawar maupun laut baunya amis sehingga sulit diolah. Anggapan itu tidak benar. Lewat ATI produk perikanan, berbagai jenis ikan dapat diolah menjadi makanan olahan yang enak, nikmat dan punya citra rasa yang tinggi. “Mengonsumsi ikan yang banyak juga baik bagi kesehatan,” ujarnya.

Kalaupun ada anggapan ikan berpotensi mengakibatkan kolesterol, Endang menampiknya. Kolesterol bukan dari ikannya. Tapi cara memasaknya. “Terutama dari minyaknya,” terangnya.

Dalam acara itu, peserta mendapatkan materi tentang ajakan makan ikan. Dilanjutkan demonstrasi dan praktik mengolah ikan. Misalnya mengolah ikan menjadi aneka masakan dan camilan. (kus/er/mo2)