JOGJA – Dari hasil riset dan data Sumberinfodca tercatat ada 6.263.453 sampah sedotan di pantai dan di laut dunia. Di Indonesia sendiri jumlah pemakaian sedotan per hari bisa mencapai 16.784 km (panjang konsumsi sedotan) atau setara dengan jarak kota Jakarta ke Mexico.

Menyadari dampak negatif bagi lingkungan dari sampah sedotan tersebut restoran cepat saji ternama di Indonesia, KFC, mengajak konsumen tolak sedotan plastik sekali pakai sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan.

Program yang dicanangkan #Nostrawmovement atau gerakan tanpa sedotan ini menjadi gerakan nasional KFC, itu sehubungan dengan gerakan #beatplasticpollution yang diusung pada Hari Bumi Internasional April lalu.

”Karena konsumen dan gerai kami cukup banyak, sosialisasi dan kampanye gerakan tanpa sedotan ini menjadi upaya paling efektif,” ujar General Manager Marketing PT Fast Food Indonesia Hendra Yuniarto.

Hendra menyebutkan, gerakan ini sudah dimulai di 233 gerai KFC di wilayah Jabotabek sejak 2017, pemakaian sedotan plastik secara bertahap pun mengalami penurunan hingga 45 persen di setiap gerai.

“Kami berharap bisa meningkatkan angka penurunan pemakaian sedotan di Indonesia, karena mengubah kebiasaan masyarakat dalam pemakaian sedotan plastik ini terbilang sangat susah. Dengan penurunan sampah plastik dan sedotan ini kami juga berharap bisa berkontribusi langsung dalam penyelamatan laut Indonesia,” paparnya.

Hendra mengungkapkan, setiap tahunnya sekitar sepertiga biota laut termasuk terumbu karang, bahkan burung laut, mati karena sampah plastik termasuk sedotan plastik sekali pakai yang berakhir di lautan. Hal ini tentu sangat mengkhawatirkan mengingat terumbu karang berperan besar melindungi pantai dari erosi, banjir pantai, dan peristiwa perusakan lain yang diakibatkan oleh fenomena air laut. Terumbu karang juga merupakan tempat mencari makanan, tempat asuhan dan tumbuh besar bagi berbagai biota laut.

Perwakilan Divers Clean Action (DCA) Amrullah Rosadi menambahkan, data Kementerian Lingkungan Hidup sekitar 70 persen sampah plastik di Indonesia dapat dan telah didaur ulang oleh para pelaku daur ulang, namun tidak demikian dengan sedotan yang karena nilainya rendah dan sulit didaur ulang maka tidak ada pelaku daur ulang yang bersedia mengambil.

“Rata-rata setiap orang menggunakan sedotan sekali pakai sebanyak 1-2 kali setiap hari dan diperkiraan pemakaian sedotan di Indonesia setiap harinya mencapai 93.244.847 batang yang berasal dari restoran, minuman kemasan, dan sumber lainnya (packed straw),” ungkapnya.

Meskipun hanya berukuran panjang 10 sentimeter namun perlu 500 tahun lamanya agar sampah sedotan plastik dapat terurai secara alami. Sedotan sekali pakai umumnya berbahan plastik tipe polypropylene yang tahan lama, namun tidak terdegradasi secara alami, sehingga semakin lama menjadi butiran kecil yang disebut mikroplastik yang sangat berbahaya bagi ekosistem laut.

Dijelaskan lebih lanjut, program ini juga telah menyasar pada pembersihan sampah plastik di sejumlah pantai di Indonesia. Di Jogja sendiri DCA telah menjalankan program pembersihan sampah di sungai-sungai yang tercemar sampah plastik.

“Melalui gerakan #Nostrawmovement ini kami berharap dapat meningkatkan kesadaran konsumen untuk lebih peduli dan berani menolak sedotan plastic,” ujarnya.

Saat ini KFC sendiri sudah tidak memberikan sedotan plastik sekali pakai di sejumlah gerai. Para pelanggan dan masyarakat bisa menggunakan sedotan stainless steel sebagai pengganti sedotan plastik sekali pakai. (ita/ila)