BANTUL – Sebagai bentuk apresiasi kepada siswa berkebutuhan khusus yang mempunyai bakat, Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) DIJ melalui Pusat Layanan Keberbakatan (PLK) menggelar Unjuk Prestasi Siswa di SLBN 1 Bantul belum lama ini (1/11).

Kepala Disdikpora DIJ Kadarmanta Baskara Aji mengatakan, PLK ini didirikan Disdikpora DIJ lima tahun lalu. PLK ini juga sebagai wadah para siswa mengembangkan bakatnya dengan fasilitas dan pembinaan yang tidak mereka dapatkan di sekolah berkebutuhan khusus maupun inklusi.

“Unjuk Prestasi Siswa ini sebagai kegiatan untuk menunjukkan bakat-bakat mereka. Ternyata kalau mereka dibina dan difasilitasi bisa percaya diri dan bisa menampilkan yang terbaik dari mereka,” ujar Aji.

Dalam Unjuk Prestasi Siswa berkebutuhan khusus tersebut terdapat 60 siswa yang telah diseleksi sebelumnya dan menampilkan bakat dalam empat kategori seni siswa yaitu seni musik, seni tari, seni lukis, dan seni desain grafis.

Aji menyebutkan, dalam PLK ada sekitar 200 siswa berkebutuhan khusus dari berbagai sekolah inklusi dan SLB di DIJ yang dibina setiap tahunnya. Menurutnya, pembinaan dan pengembangan bakat ini juga bisa menjadi terapi bagi mereka.

“Coba lihat mereka yang menari, bisa kompak dan seirama dengan musiknya padahal mereka tuna rungu. Yang punya bakat lukis juga tak kalah baiknya, lukisan mereka bagus-bagus, bahkan beberapa laku dijual dalam pameran. Bidang seni desain grafis mereka juga membuat desain untuk pin dan kaos panitia,” ungkapnya.

Ke depan, pihaknya juga akan mengembangkan lagi PLK ini di tiap kabupaten di DIJ untuk memudahkan para siswa berlatih. Saat ini hanya ada di SLBN 1 Bantul dan satu lagi di Gunungkidul yang baru saja dimulai.

Aji berharap dengan kegiatan dan adanya program PLK ini anak-anak berkebutuhan khusus dapat mencetak prestasi di berbagai bidan seni dan budaya sama seperti anak-anak lainnya. Dirinya juga menyebutkan, Disdikpora DIJ sudah melakukan sosialisasi di setiap kecamatan di DIJ untuk mengajak para orang tua agar mau menyekolahkan anak mereka ke sekolah inklusi atau SLB.

“Masih ada sekitar 800 anak berkebutuhan khusus yang belum disekolahkan orang tuanya. Padahal sudah ada kebijakan bupati dan gubernur terkait hak mereka mendapatkan pendidikan yang sama dengan yang lain tapi sayangnya sulit sekali membujuk orang tua mereka,” paparnya.

Salah satu instruktur tari siswa berkebutuhan khusus Niluh Putu mengatakan, anak didiknya sangat antusias selama mengikuti pembinaan dan pelatihan.

“Sangat antusias dan menyenangkan, karena mereka tuna rungu jadi kami melatihnya dengan metode oral dan mimik muka, bagaimana menyelaraskan hitungan dan ketukan musiknya,” tutur Niluh.

Dalam kesempatan tersebut ada empat tarian yang ditampilkan yaitu Tari Gumegrah Jogja, Tari Dagang Tani Dagang Layar, Tari Gendhis dan Taruna, serta Tari Sitren. (ita/ila)