BPBD Sleman: Status Tetap Aman, Belum Darurat

SLEMAN – Musim kemarau tahun ini berlangsung cukup lama. Akibatnya banyak sumber air mulai mengering dan membuat warga kesulitan air bersih.

Selain di Gunungkidul dan Kulonprogo yang menjadi langganan kekeringan, Sleman pun mengalami hal serupa. Saking lamanya kemarau, banyak sumur warga mengering.

Salah satu daerah yang terdampak kemarau panjang adalah Desa Pandowoharjo, Kecamatan Sleman. Sekitar 20 kepala keluarga (KK) di sana kesulitan mendapatkan air bersih.

Salah seorang warga, Sunardiyono mengatakan, kekeringan baru dialaminya pada musim kemarau tahun ini. “Sudah satu bulan ini warga sulit mendapatkan air,” katanya.

Sunardiyono mengatakan, untuk mencukupi kebutuhan air awalnya mereka mengambil dari sumur di masjid. Namun tidak bisa untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

“Lantas kami swadaya menyewa pompa dan menyedot air dari sungai yang jaraknya sekitar 500 meter. Ditampung di dua tandon dengan volume masing-masing 5.300 liter,” ujarnya.

Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Makwan membenarkan mulai keringnya sumur warga. Bahkan debit air sumur di kantor BPBD Sleman pun juga berkurang drastis.

Makwan menyatakan November dasarian I ini hujan akan mulai turun. Sehingga pihaknya merasa tidak perlu mengeluarkan kondisi darurat bencana kekeringan. “Toh kami masih ada persediaan 275 tangki air,” kata dia.

Permintaan air terbesar masih di daerah Prambanan. Tepatnya di Sambirejo. Dimana Dusun Kikis menjadi daerah yang paling parah terdampak kekeringan.

“Sekarang semua RW di Kikis meminta pasokan air,” ujarnya.

Tanda hadirnya hujan, sudah mulai nampak. Beberapa daerah di Sleman sudah mulai turun hujan. Cangkringan, Pakem, Kaliurang contohnya. “Semoga minggu-minggu ini sudah turun hujan sesuai prediksi BMKG,” harapnya. (har/iwa/er/er/mo2)