Tak banyak talenta lokal, di skuad PSS Sleman yang tengah mengarungi babak delapan besar Liga 2 Indonesia. Salah satu yang tersisa adalah Wahyu Sukarta. Apa tekadnya bersama Super Elang Jawa di musim ini?

BAHANA, Sleman

Guna merealisasikan ambisi naik kasta, PSS Sleman mengumpulkan pemain-pemain dengan kualitas mumpuni. Namun dari pemain yang ada, praktis hanya segelintir pemain yang memiliki darah Sleman. Salah satunya, Wahyu Sukarta.

Ya, talenta-talenta lokal yang ada di Sleman memang tidak sepenuhnya bisa bersaing denga komposisi yang dimiliki oleh PSS Sleman. Wahyu Sukarta sendiri mengaku cukup beruntung bisa menjadi bagian dari skuad PSS yang mengarungi babak delapan besar. Selain Wahyu, masih ada satu nama talenta lokal lainnya M Zamzani.

Wahyu Sukarta memang belum mendapatkan kepercayaan penuh dari pelatih Seto Nurdiyantara. Bermain sebagai gelandang bertahan, pemain berusia 24 tahun ini masih kalah bersaing dengan pemain senior Amarzukih dan Arie Sandy. Belum lagi nama Taufiq Febrianto yang didatangkan dari Persiwa Wamena turut meramaikan lini tengah.

Belum mendapatkan kesempatan bermain tak lantas membuat Wahyu patah semangat. Dia pun tetap bekerja keras untuk mendapatkan kepercayaan dari pelatih. Apalagi, pengetahuan sepak bola semakin bertambah dengan kehadiran pemain-pemain kaya pengalaman seperti Amarzukih dan pemain PSS yang telah hengkang jelang putaran kedua Liga 2 Syamsul Chaerudin. “Saya belajar dari para pemain senior di PSS,” jelas Wahyu.

Dia pun menyadari bergabung dengan klub impian sejak kecil, maka siap bersaing dengan pemain-pemain bintang yang ada di dalam klub. Namun, dia tak pernah berkecil hati meski jarang mendapatkan kesempatan dari pelatih. “Setidaknya saya bisa menimba pengalaman untuk meniti karir yang masih panjang,” jelasnya.

Bergabung dengan PSS merupakan impian sejak kecil. Setiap kesempatan yang diberikan oleh pelatih, selalu dimanfaatkan untuk tetap memberi kontribusi semaksimal mungkin. “Saya selalu ingin menujukkan kemampuan, tapi memang persaingan di sini sangat ketat karena ada nama-nama besar,” katanya.

Diakui kadang terbesit untuk mencoba menambah jam terbang dengan membela klub di luar DIJ. Namun, upaya tersebut terbentur dengan aktivitas kuliah yang urung rampung. Maka dari itu, dia pun menyarankan kepada pemain muda lokal, untuk tidak takut mencari peruntungan diberbagai klub yang tersebar di Indonesia.

“Kan banyak juga talenta lokal DIJ yang bermain untuk klub-klub Liga 1,” jelasnya.

Jebolan Sekolah Sepak Bola Hizbul Wathan ini menilai, kualitas talenta yang dimiliki oleh Sleman, bisa bersaing dengan wilayah lainnya. Hanya, sejauh ini talenta tersebut belum tidak banyak terlihat ke permukaan, karena tim-tim DIJ, masih berkutat di Liga 2.

Salah satu contoh talenta lokal DIJ yang memiliki cukup nama adalah pelatih PSS Sleman, Seto Nurdiyantara. Sebelum menutup karir sebagai pesepakbola professional, Seto telah melanglangbuana ke beberapa tim Liga Indonesia. Bahkan, pria asal Kalasan tersebut pernah dipanggil ke tim nasional Indonesia. ”Intinya jangan patah semangat dalam situasi apapun dan tetap bekerja keras,” jelasnya.

Seto sendiri menilai cukup terkesan dengan profesionalisme pemainnya. Menurutnya, Wahyu merupakan pemain yang mau belajar. “Memang dia harus lebih kerja keras lagi. Karena siapa yang bermain, saya nilai dari hasil latihan,” kata Seto. (din/by/mo2)