GUNUNGKIDUL – Fenomena kasus bunuh diri di Gunungkidul disikapi warga dengan beragam cara. Mulai mengumpat hingga membuat larangan menyalatkan jenazah.

Seperti di Pedukuhan Kayu Bimo, Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari. Warga yang meninggal karena gantung diri bakal dimakamkan langsung. Tanpa dimandikan, dikafani, apalagi disalatkan. Layaknya jenazah muslim.

Menurut Dukuh Kayu Bimo Sutino, ”hukum adat” ini memang menuai pro dan kontra masyarakat. Namun, aturan tak tertulis yang menjadi hukuman sosial bagi pelaku bunuh diri ini hingga sekarang masih berjalan.

”Sudah berjalan tiga tahun terakhir,” jelas Sutino saat dihubungi,  Jumat (2/11).

Hukuman sosial ini tidak muncul tiba-tiba. Diceritakan, tiga tahun lalu ada seorang warga meninggal dunia karena gantung diri. Seperti layaknya seorang muslim, jenazah yang mati secara tidak wajar ini pun diperlakukan dengan ritual Islam. Seperti dimandikan, dikafani, dan disalatkan. Namun, cara ini ternyata menuai polemik. Bahkan, menimbulkan gejolak.

”Akhirnya disepakati, jika ada warga meninggal dunia dengan cara gantung diri maka hanya dimakamkan tanpa dimandikan dan lain sebagainya,” kenangnya.

Sanksi lain yang disepakati adalah seluruh barang peninggalan almarhum bakal dibakar. Begitu pula dengan lokasi dan tali yang digunakan bunuh diri. ”Semua dibakar supaya (mitos) pulung gantung tidak datang lagi,” tuturnya.

Menurutnya, ”hukum adat” ini juga diberlakukan di beberapa pedukuhan lain.

Meski menuai pro dan kontra, keluarga pelaku bunuh diri ternyata justru mendukung ”hukum adat” ini. Marwati, seorang anggota keluarga pelaku bunuh diri sepakat dengan penerapan aturan tak tertulis ini. Agar kasus bunuh diri tak terulang.

”Kalau ditanya ikhlas ya, di-ikhlas-ikhlaskan saja,” katanya.

Secara terpisah, pengamat sosial dari Gunungkidul Edi Padmo mengatakan, respons masyarakat terhadap pelaku bunuh diri sudah sampai pada titik nadir. Di salah satu wilayah, warga kompak meledek dan mengumpat jenazah.

”Owalah mati wae kok ngrepoti wong akeh (meninggal dunia kok membuat repot banyak orang),” kata Edi menirukan salah satu kalimat umpatan. (gun/zam/er/mo2)