Setiap Rumah Diarahkan

Memiliki Satu Kolam

PURWOREJO – Lele menjadi produk unggulan masyarakat Desa Kesugihan, Purwodadi, Purworejo. Jenis perikanan darat ini juga diarahkan menjadi salah atu alternatif tujuan wisata edukasi dan wisata pedesaan.

Hal itu disampaikan Kepala Desa Kesugihan Drajad Suhardo saat peresmian “Tugu Lele” yang menjadi ikon desa setempat, Jumat (2/11). Kegiatan ini dihadiri Ketua Tim Penggerak PKK Purworejo Fatimah Verena Prihastyari, Asisten III Setda Bidang Adminstrasi dan Kesra Muh Wuryanto, serta pejabat di lingkunan Bank BNI yang turut mendukung kegiatan itu.

“Desa kami tidak jauh dari bandara internasional yang ada di Kulonprogo. Makanya kami berinisiatif membuat terobosan dengan membuat lokasi wisata edukasi seperti ini,” kata Drajad.

Menurutnya, disebut dengan Kampung Lele Terpadu, kegiatan ini memang lebih banyak didukung kaum perempuan yang mana menjadi tindak lanjut dari pemberdayaan perempuan dalam hal budidaya lele. Pembudidayaannya sendiri menggunakan buis beton maupun terpal. Pihaknya juga mengarahkan setiap rumah minimal memiliki satu kolam lele.

“Sebagian besar memang dilakukan kaum wanita dan sebagai motornya adalam KWT Sugih Rejeki Desa Kesugihan,” jelas Drajad.

Sampai saat ini pemerintah desa sudah merealisasikan 76 unit kolam lele untuk 76 rumah. Dari hasi budidaya lele ini, nantinya akan diolah menjadi aneka makanan olahan berbahan lele, seperti sate lele, siomay lele, dendeng lele, lele asap, biskuit lele, dan lain-lain dan akan dijadikan produk unggulan desa.

Pemimpin BNI Kantor Cabang Purworejo Harry Prabowo mengatakan, pemberian CSR untuk pengembangan Desa Wisata Kampung Lele Kesugihan itu merupakan kegiatan pemberdayaan masyarakat dari Divisi Hubungan Lembaga (HLB) BNI. Pihaknya berharap program ini tidak hanya semata-mata untuk rintisan saja, tetapi berkesinambungan.

Bupati Agus Bastian melalui sambutan tertulis yang dibacakan Asisten III Muh Wuryanto mengaku bangga dengan kreativitas warga dalam menggali potensi wilayahnya. Tidak sekadar berbudidaya semata, namun juga membuat ikon yang bisa menjadi pembeda dengan desa yang lain.

“Tentunya kami akan terus mendorong sehingga kampung lele ini akan eksis dan berkembang di masa mendatang,” kata Wuryanto. (udi/laz/by/mo2)