Cara Muhsin Kalida Membuat Seseorang Gemar Menulis di Cakruk Pintar

Taman bacaan itu dinamai Cakruk Pintar. Oleh pendirinya, Muhsin Kalida. Dosen UIN Sunan Kalijaga. Di tempat inilah Muhsin memoles masyarakat untuk gemar menulis. Dengan teknik hypnowriting.

ROTUN INAYAH, Sleman

Bagi sebagian orang, istilah hypnowriting mungkin terasa asing. Teknik memainkan otak seseorang. Diarahkan ke suatu hal. Agar lebih konsentrasi. Jika sudah terarah, dikonsentrasikan ke penulisan. Itulah cara Muhsin menggugah masyarakat gemar menulis. Di Cakruk Pintar. Di Dusun Nologaten, Caturtunggal, Depok, Sleman.

Cakruk Pintar didirikannya pada 2003. Berawal keprihatinannya pada budaya membaca masyarakat yang kian memudar. Dalam perjalanannya, Muhsin ingin masyarakat tak hanya gemar membaca. Menulis juga.

“Membaca dan menulis merupakan kewajiban kita semua. Banyak tokoh terkenal bukan karena tutur kata. Melainkan dari tulisan mereka,” ungkap Muhsin saat berbincang dengan Radar Jogja belum lama ini.

Diakuinya, menulis membutuhkan konsentrasi tinggi. Kuncinya, mood harus dalam kondisi baik. Untuk mendapatkan Mood yang baik, kata Muhsin, hanya bisa diciptakan oleh diri kita sendiri. Hypnowriting layaknya tes kekuatan daya ingat. Dan bagaimana menciptakan suasana. Bagaimana mengekspresikan tulisan.

Muhsin menemukan cara unik ini setelah melakukan riset panjang. Muhsin yang berlatar belakang pendidikan psikologi telah banyak mempelajari perilaku orang, memory, dan neuro. Dari situ diketahuilah titik kelemahan otak. Menguatkan otak untuk menulis, salah satunya bisa dengan teknik hypnowriting.

Muhsin sendiri mengaku sebagai seorang kinestetik. Saat mau menulis harus mendengarkan musik. “Tapi ada juga tipe orang visual. Yang ketika membaca kemudian mendengarkan musik maka akan keganggu,” jelasnya.

Lantas bagaimana teknik hypnowriting diterapkan pada seseorang. “Cukup tiga jam,” katanya. Dalam waktu singkat itu Muhsin biasa mengajari seseorang menulis. Dua jam pertama hanya untuk bermain, skilogi, dan memainkan otak kanan dan otak kiri. Langkah itu untuk memunculkan mood dan menata memori. Hingga orang itu menemukan ide terbaik. Lalu dilanjutkan praktik.

“Tuangkan semua yang ada di pikiran dalam tulisan,” tuturnya.

Muhsin tak menganjurkan seorang yang baru belajar menulis buru-buru menghapus kalimat. Yang dianggap kurang sreg di hati penulis. Karena itu akan membuyarkan semua pikiran yang tertanam di otak saat itu. Jika itu terjadi akan mengganggu penulisan selanjutnya.

Cakruk Pintar buka 24 jam. Di situ ada tim pengajar dan editor bahasa. Siapa pun boleh belajar. Membaca dan menulis. Anak-anak dan ibu-ibu biasanya memilih sore. Sedangkan para remaja lebih senang ketika malam.

Di Cakruk Pintar tersedia wifi gratis. Untuk memudahkan masyarakat menggali ide lewat internet. Supaya mood lebih baik. Tapi, ingat. Itu hanya berlaku dua jam. Selanjutnya mereka harus membayar dengan tulisan.

Muhsin mewajibkan menulis tangan. Alatnya cukup kertas dan pena. Saat menulis diimbau tak membuka HP.

Bagi seseorang yang tak sempat datang ke Cakruk Pintar tetap bisa belajar menulis. Caranya, hasil tulisan dikirim secara online. Lewat email. Hasil tulisan akan diolah dan diberi catatan oleh tim editor. Hasil olahan itu lantas dikirimkan lagi ke si penulis. Untuk diperbaiki.  (yog/rg/mo2)