Ainayya Nur Azzahra, First Team Honda DBL D.I.Jogjakarta Series 2018

TATANG GURITNO/ZETIZEN

PEREMPUAN kelahiran 22 Januari 2002 ini sering memborong gelar pemain terbaik. Dua tahun lalu, saat masih menjadi siswi SMPN 1 Jogja, Ainayya Nur Azzahra menjadi rekor pencetak poin terbanyak pada JRBL Jogja dengan 42 poin.

Dia dinobatkan sebagai Most Valuable Player (MVP) putri JRBL. Pada tahun pertamanya di SMAN 3 Padmanaba Jogja, dia menjadi MVP Loop 3×3 Competition dan mengikuti Loop National Camp bersama legenda 3×3 dunia, Dusan Domovic Bulut.

Meski pada Honda DBL tahun ini tidak menjadi MVP, dia membawa tim putri Padmanaba masuk ke babak fantastic four dan terpilih sebagai first team Honda DBL D.I.Jogjakarta Series 2018.

“Tantangan di Honda DBL adalah euphoria penonton yang luar biasa. Dilihat begitu banyak orang, jadi butuh persiapan mental supaya tetap bisa bermain baik,” kata Zahra, sapaan Ainayya Nur Azzahra.

Saat dia berlaga di Honda DBL D.I.Jogjakarta Series 2018, Oktober lalu, Zahra beberapa kali mendapat standing applause dari penonton karena mencetak tiga angka saat bel tanda akhir kuarter berbunyi. Dalam basket poin ini disebut buzzer beater. Zahra mencetak rata-rata 16,8 poin setiap pertandingan.
“Kalo dulu waktu SMP aku banyak bermain di posisi point guard, kali ini di Padmanaba diminta bergeser ke shooting guard. Selain fokus mencetak angka, hal tersebut dilakukan coach agar kemampuan rekan satu tim merata,’’ ujar Zahra.

Dia mengakui pencapaiannya di Honda DBL D.I.Jogjakarta Series 2018 tidak lepas dari dukungan semua pihak. Selain keluarga, Massa Padmanaba (suporter SMAN 3 Jogja) juga menjadi faktor penting kesuksesannya. Semua rekan-rekannya menjelma bak keluarga. Apapun dilakukan untuk mendukung tim basket putri SMAN 3 Jogja.

‘’Hebatnya Massa Padmanaba adalah mereka seolah membuatku tidak bertanding sendirian. Mereka tidak sekadar bernyanyi atau memberi tepuk tangan, tapi Massa Padmanaba seolah-olah juga berkompetisi,” ucap Zahra.
Menurut dia, seorang pemain tidak bisa hanya berjuang untuk dirinya sendiri di lapangan. Harus mau berkorban untuk tim.

“Aku masih banyak kekurangan, seperti dribble dan mengatur emosi di lapangan. Tapi aku aku selalu berusaha memperbaikinya di setiap pertandingan,’’ kata Zahra.

Dia bersyukur dapat membawa Padmanaba masuk ke fantastic four. Itu sudah melampaui target. Jika mau sukses dan mendapatkan gelar individu, harus bermain juga untuk tim.

‘’Sehingga all out berkorban dan siap melakukan apa saja agar tim kamu meraih kemenangan. Pencapaian individu akan mengikuti,” pesan Zahra. (ata/iwa/fj/mo1)

SANTAI: Zahra mencetak rata-rata 16,8 poin setiap pertandingan. (TATANG GURITNO/ZETIZEN)