Layaknya CEO, Harus Paham Leadership dan Intrapreneurship

Gubernur DIY Hamengku Buwono X menginginkan perubahan cepat dan mendasar bagi pola pembinaan karir aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemda DIY. Utamanya, mereka yang direkrut menjadi ASN setelah era reformasi 1998.

“Saya ingin kalian adalah seorang yang reformis. Memaknai perubahan sebagai keniscayaan. Karena itu, pola pembinaannya berbeda dengan para seniornya yang masuk sebelum era reformasi,” ungkap Hamengku Buwono (HB) X memberikan pengarahan kepada 60 orang ASN peserta pendidikan dan latihan (diklat) pengkaderan Badan Diklat DIY di Gedhong Pracimasana, Kepatihan, Kamis (1/11).

Untuk diketahui, 60 orang itu menjadi dua kelompok. Pertama, sebanyak 30 orang merupakan peserta diklat pengkaderan jabatan pengawas. Mereka masih menjadi staf dan berpotensi promosi ke eselon IV (pengawas).

Kedua, sejumlah 30 orang mengikuti diklat pengkaderan jabatan administator. Mereka menjabat eselon IV dan berpeluang promosi ke eselon III (administator). “Pemimpin itu bukan hanya gubernur. Pejabat eselon IV dan III itu juga pemimpin karena memimpin beberapa staf,” ingat gubernur.

Tentang perubahan pola pembinaan ASN, gubernur mencanangkan sebelum mengikuti diklat, setiap ASN harus menjalani assessment. Yakni suatu proses untuk mengetahui kemampuan seseorang terkait dengan kompetensi.

Selain itu, ada tambahan kualifikasi sebagai prasyarat. Dengan begitu, nantinya setelah ditempatkan di organisasi perangkat daerah (OPD) mereka mengalami mutasi dari satu instansi ke instansi lain secara lebih cepat. “Mutasinya dilakukan secara zig-zag,” terang gubernur.

HB X ingin Pemda DIY mempunyai ASN yang kreatif dan inovatif. Mereka paham mengenai leadership dan intrapreneurship layaknya menjadi CEO. Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini tak ingin ada lagi komentar bernada pesimistis dari ASN. “Ngaten mawon cekap (begini saja cukup),” ingat dia.

Suami GKR Hemas ini juga menyerahkan sertifikat kepada lima peserta terbaik. Mereka masing-masing mewakili kelompok pengkaderan. Di mata gubenur, 60 orang peserta diklat pengkaderan itu sesungguhnya merupakan lulusan terbaik dari yang baik.

“The best of the best. Semoga satu dari sekian banyak penerima sertifikat ini kemudian hari meraih karir tertinggi sebagai Sekda,” kata gubernur yang disambut tepuk tangan peserta.

Dalam kesempatan itu, HB X mewanti-wanti, para ASN di Pemda DIY tidak ragu-ragu menjalankan kegiatan yang dibiayai dana keistimewaan (danais). Bagi gubernur kegiatan itu merupakan satu kesatuan dari tugas dan tanggung jawab. “Bukan merupakan tambahan kerja. Kalau ada yang menolak, saya akan turunkan angka kinerjanya,” tegas gubernur yang menjabat sejak 3 Oktober 1998 silam.

Kepala Badan Diklat DIY Kuncoro Cahyo Aji melaporkan, lima orang terpilih sebagai peserta terbaik. Untuk diklat pengkaderan jabatan pengawas berturut-turut Doddy Bagus Jatmiko, Iwan Pramana, Wulan Sapto Nugroho, Tunggul Bomoaji dan Veronica Setioningtyas.

Sedangkan lima terbaik diklat pengkaderan jabatan administrator diraih Danang Samsurizal, Rully Andriadi, Wisnu Hermawan, Djarot Margiantoro dan Peni Sumarwati. (kus/by/mo1)