Mengenal Wayang Wahyu yang Sumber Ceritanya dari Alkitab

Wayang merupakan salah satu warisan budaya adiluhung Jawa. Kisah dalam setiap pementasannya diambil dari kitab kuno. Sebut saja epos Ramayana atau Mahabarata. Lantas bagaimana dengan wayang wahyu?

JAUH HARI WAWAN S, Sleman

RATUSAN orang memadati halaman Gereja Kristen Jawa (GKJ) Dayu Rabu malam (31/10). Area parkir gereja di Jalan Damai, Pusung, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman tampak penuh. Seperangkat gamelan siap di atas panggung. Lengkap dengan para niyaga (penabuh gamelan). Ada yang sedang menata posisi kendang. Ada yang mengecek kesiapan sound sistem. Ada pula yang mengecek lampu blacu.

Sebagian besar penonton adalah jemaat gereja. Mereka larut dalam suasana malam itu. Ada sebagian yang berdesakan dengan warga setempat. Atau pengendara mobil dan motor yang sengaja berhenti di dekat gereja. Untuk menyaksikan pentas wayang. Meski bukan jamnya menunaikan ibadah, suasana sakral dan khidmat tetap terasa.

Kian malam beberapa orang mulai tidak sabar menunggu. Tampak dari gestur mereka. Rasa tidak nyaman duduk. Kadang berdiri. Duduk lagi.

Gamelan mulai ditabuh. Sang dalang pun memainkan wayang. Saat itu pula ratusan pasang mata tak lepas dari layar putih. Di mana dalang memainkan wayangnya. Adalah Ki Sutomo Tirto Mandiro. Sang dalang itu. Asalnya Klaten, Jawa Tengah.

Ki Sutomo mampu menyihir jemaat yang hadir hingga tak beranjak dari tempat duduk. Selama hampir dua jam pertunjukan berlangsung. Kisah yang diangkat beda dengan umumnya cerita pewayangan. Malam itu Ki Sutomo tidak terpaku pada epos Ramayana maupun Mahabarata. Tokoh pewayangannya pun berbeda. Tak ada Pandawa Lima atau Sri Rama dan Dewi Shinta. Ya, itu lantaran epos Ramayana dan Mahabarata berlatar belakang Hindu. Sedangkan pentas wayang Ki Sutomo lebih ditujukan bagi umat kristiani. “Saya memainkan wayang wahyu. Ceritanya diambil dari Alkitab,” ujarnya usai pementasan.
Adapun tokoh dalam wayang wahyu, di antaranya: Adam, Hawa, Daud, Goliat, Musa, Abraham, Yesus, Maria, dan Yusuf. Namun tetap ada limbukan juga. Di sesi “gara-gara” yang selalu mengundang gerrr penonton.

Wayang wahyu pada dasarnya kesenian wayang berbahan kulit pada umumnya. Yang membuat beda hanya sumber ceritanya. “Wayang wahyu juga sering disebut wayang babat, wayang beber, atau wayang sabda,” sambungnya.

Malam itu Ki Sutomo menampilkan lakon “Kawulo Manunggal” atau rakyat yang bersatu. Memberikan kerukunan dan menyatu. Serta tidak ada perpecahan di antara satu dengan yang lain. Kisah ini diambil dari cerita para rasul yang melihat penderitaan rakyat di Ethiopia. Mereka lantas memberikan bantuan dengan berbagai upaya.

Sebagian besar cerita wayang wahyu memang diangkat dari kisah teladan para rasul dan jemaat. Yang menolong rakyat saat terjadi musibah.

“Kisah dalam wayang wahyu mengingatkan umat kristiani yang mayoritas dekat dengan budaya Jawa,” ungkap Charisma Panca Nugraha, ketua panitia pentas wayang. Cara ini untuk lebih menguatkan religiusitas umat lewat pendekatan budaya. Sekaligus nguri-uri kebudayaan Jawa. Dan menjaga keharmonisan antarsesama. (yog/rg/mo1)