JOGJA – Koalisi Indonesia Bebas Tar (KABAR) merilis hasil penelitian yang menunjukkan senyawa paling berbahaya pada produk tembakau adalah Tar yang dihasilkan dalam proses pembakaran, bukan nikotin. KABAR mendorong produk tembakau alternatif sebagai solusi.

“Tar merupakan senyawa karsinogenik pada produk tembakau yang dapat memicu timbulnya penyakit berbahaya pada tubuh. Tapi yang mesti diketahui juga, nikotin ini juga tidak bebas risiko,” jelas Ketua KABAR dan Peneliti Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) Indonesia Dr. drg. Amaliya saat roadshow KABAR di Jogja Jumat, (2/11).

Menurut dia dari hasil roadshow ke beberapa kota sebelumnya, diketahui berbagai cara dan metode berhenti merokok yang dilakukan tidak berhasil. Salah satunya penggunaan produk tembakau alternatif yang menerapkan metode pengurangan risiko. Ia menjelaskan, metode pengurangan risiko yang ada pada produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik dan produk tembakau yang dipanaskan bukan dibakar dapat mengeliminasi TAR, sehingga risiko kesehatannya menjadi lebih rendah.

“Perokok berhak
mendapatkan informasi secara transparan berdasarkan riset dan kajian ilmu pengetahuan dan
teknologi tentang produk-produk tembakau alternatif,” ungkapnya.

Amaliya menilai penelitian lebih lanjut mengenai produk tembakau alternatif mutlak diperlukan untuk menggali lebih dalam mengenai potensi yang dimiliki. Selain itu, penting untuk mempublikasikan hasilnya secara terbuka, sehingga pembuat kebijakan, perokok serta masyarakat dapat mengetahui dan memutuskan dengan lebih tepat mengenai produk tembakau alternatif.

“Mempertimbangkan bukti-bukti hasil penelitian, termasuk penelitian yang telah dilakukan oleh organisasi kesehatan masyarakat serta badan kesehatan publik pemerintah, baik dalam lingkup nasional maupun internasional yang menemukan bahwa produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah dibandingkan dengan rokok,” jelasnya.

Langkah tersebut dinialiny upaya terbaik untuk mendorong perokok berhenti. Tetapi, bagi mereka yang merasakan kesulitan atau belum berkeinginan untuk berhenti, memiliki hak terhadap akses ke produk tembakau yang lebih rendah risiko.

KABAR juga mendorong pemerintah merumuskan kerangka regulasi yang tepat serta berbeda dengan rokok karena adanya potensi lebih rendah risiko yang telah terbukti dalam hasil temuan penelitian. “Sehingga dapat mendorong perokok yang tidak dapat atau tidak ingin berhenti merokok untuk beralih ke produk tembakau alternatif,” terangnya. (pra/ong)