Kasus Gantung Diri Gunungkidul Perlu Penanganan Serius

GUNUNGKIDUL – Dua kasus gantung diri di Gunungkidul Rabu (31/10) masih hangat diperbincangkan publik. Total 58 nyawa warga Bumi Handayani melayang akibat jerat leher. Sebagian besar lansia. Yang tak mampu mengadapi beban hidup. Terutama akibat penyakit menahun. “Persoalan begitu kompleks ditanggung sendiri. Maka muncul kalimat, ‘aku tak mati wae’ (saya ingin mati saja),” ungkap pengamat sosial Gunungkidul Edy Padmo kemarin. “Maka, jika ingin hidup lebih lama jangan membiasakan menyendiri. Karena dalam hati bisa menyimpulkan pendapat sendiri. Merasa tidak berguna lagi. Ini sangat berbahaya,” tegasnya.

Kesimpulan itu dia peroleh berdasarkan penelitian dan investigasi kasus bunuh diri di Gunungkidul sejak 2016. Hasil penelitiannya diserahkan ke Pemkab Gunungkidul. Sebagai bahan rekomendasi pencegahan.

Ada beberapa poin rekomendasi penanganan kasus bunuh diri. Di antaranya, meningkatkan kepekaan sosial masyarakat. Khususnya di tingkat keluarga. Terutama yang anggotanya memiliki gejala ingin bunuh diri. Pemerintah perlu memetakan warga yang berpotensi bunuh diri. Kemudian berharap agar masing-masing kecamatan memiliki psikiater. Ahli yang membidangi masalah kejiwaan. “Kesimpulan penelitian kami, bunuh diri tidak dilakukan secara tiba-tiba. Namun terencana,” ujarnya.

Menurut Edy, gejala seseorang ingin mengakhiri hidup bisa dilihat dan dirasakan oleh lingkungan. Namun itu butuh kepekaan sosial. Tanda-tanda awalnya, pelaku mendadak tidak banyak bicara dan cenderung diam dalam situasi apa pun. “Saat seseorang mengucap, ‘aku tak mati wae,’ ini sudah sangat dekat (dengan gejala bunuh diri, Red),” jelasnya.

Gejala lain berdiam diri. Seseorang enggan bersosialisasi dengan masyarakat secara tiba-tiba. Ini juga bisa menjadi sinyalmen bahwa orang tersebut bisa bertindak nekat. Perubahan drastis tersebut merupakan embrio bagi calon pelaku bunuh diri.

Lantas bagaimana dengan mitos pulung gantung? Sambil menggeser posisi duduknya Edy menyatakan, antara percaya dan tak percaya. Menurutnya, mitos pulung gantung memang ada. Berupa bola merah yang meluncur dari langit dan jatuh ke suatu tempat. Di tempat itulah biasanya ada orang gantung diri. Tepat di bawah posisi kakinya, jika digali akan muncul gelu (tanah bulat untuk mengganjal jenazah di liang lahat). “Tapi itu mitos ya,” ungkapnya.
Secara ilmiah, lanjut Edy, pulung gantung memiliki korelasi pada tanda-tanda seseorang yang ingin bunuh diri.

Psikiater RSUD Wonosari Ida Rochmawati mengatakan,depresi menjadi problem psikologis penyebab utama munculnya kasus bunuh diri di Gunungkidul. Terutama golongan lanjut usia. Umur lebih 60 tahun.
“Faktor penyakit degeneratif yang biasa terjadi pada orangtua serta perasaan sendirian juga memicu kasus bunuh diri,” jelasnya.

Sementara itu, psikolog Ega Asnatasia Maharani menyatakan, kasus gantung diri di Gunungkidul harus disikapi serius semua pihak. Selain penguatan diri, perlu ada pendampingan secara intens. Bagi seseorang dengan gejala ingin bunuh diri. “Depresi beda dengan stres. Pada fase ini pola pikir sudah tak rasional. Tak berpikir dampak jangka panjang,” kata dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universiats Ahmad Dahlan (UAD) Jogjakarta.

Depresi memerlukan bantuan dari luar. Sebab, individu terkait tidak bisa menyelesaikan permasalahannya sendiri. Pola pikirnya cenderung pendek dan tidak sehat.

Ega tak menampik masih adanya anggapan enteng terhadap gejala depresi. Inilahyang menyebabkan peran orang terdekat tidak optimal. Bahkan membiarkan untuk berpikir dan mencari solusi sendiri. “Depresi tidak bisa sembuh dengan sendirinya. Perlu terapi farmakologi. Jangan anggap depresi seperti stres yang bisa sembuh sendiri,” tuturnya. (gun/dwi/yog/rg/mo1)