Kader Posyandu Desa Hargomulyo Dilatih ATI Produk Perikanan

Komisi B DPRD DIY bersama Dinas Perikanan dan Kelautan DIY terus mengampanyekan gerakan memasyarakatkan makan ikan atau Gemari. Salah satu aksi dari Gemari itu dengan melatih masyarakat mengikuti Alih Teknologi Informasi (ATI) Produk Perikanan.

“Sudah saatnya ibu-ibu sebagai kader posyandu di Desa Hargomulyo ini memelopori gerakan mengurangi mengonsumsi daging. Khususnya daging merah. Beralih dan bergantilah dengan mengonsumsi ikan tawar maupun ikan laut,” ajak Sekretaris Komisi B DPRD DIY Suparja di depan ibu-ibu kader Posyandu Desa Hargomulyo, Gedangsari, Gunungkidul, Kamis (1/11).

KUSNO S UTOMO/RADAR JOGJA

Peserta pelatihan ATI Produk Perikanan itu berasal dari 14 dusun se-Desa Hargomulyo. Kegiatan itu baru kali pertama digelar di desa yang berbatasan dengan Klaten tersebut. “Pelatihan ini sebagai upaya pengenalan,” lanjut Suparja.

Dia meyakini kebiasaan mengonsumi ikan tawar maupun ikan laut akan memberikan asupan gizi. Dampaknya, kebiasaan itu dapat meningkatkan kecerdasan anak-anak. “Ingat anak-anak kita adalah tunas-tunas bangsa,” ingat politikus yang pernah menjabat kepala Desa Hargomulyo ini.

Setelah membiasakan makan ikan, ibu-ibu harus ditingkatkan kapasitasnya dengan penguasaan mengolah ikan. Kemampuan mengolah aneka makanan dari ikan akan membantu perekonomian keluarga. “Minimal bisa menghemat anggaran. Kalau olahannya baik bisa dijual sehingga mendatangkan tambahan pendapatan,” ajaknya.

Kepala Bidang Bina Usaha Dinas Perikanan dan Kelautan Sunardi mengatakan, kegiatan ATI Produk Perikanan dalam rangka memasyarakatkan gerakan mengonsumsi ikan. “Ikan itu pengertiannya berbeda dengan daging. Ibu-ibu menyusui tidak boleh dahar (makan) ikan. Soalnya ASI-nya amis. Nanti bayinya sakit. Itu sebenarnya bertentangan dengan ilmu gizi,” terang Sunardi.

Semua ikan, lanjut dia, mempunyai gizi yang lengkap. Namun persentasenya berbeda-beda. Ada yang sedikit dan ada pula yang banyak. Mengonsumsi ikan yang banyak tidak akan mengganggu kesehatan tubuh. “Sebaliknya, kalau daging, dikonsumsi berlebih, dampaknya akan buruk bagi kesehatan,” ingat dia.
Sunardi memaparkan, produksi ikan di DIY baru mencapai 3.500 ton.

Sedangkan di Malang, Jawa Timur sudah menembus 12.000 ton. Kondisi tersebut dipengaruhi faktor alam. “Ombak laut di Jogja tinggi, sedangkan di Malang ombak lautnya landai,” katanya.

Dalam pelatihan ATI Produk Perikanan itu diajarkan tiga jenis olahan ikan. Peserta dibagi dalam tiga kategori. Peserta pemula, madya dan lanjut. Sunardi menambahkan, berdasarkan data Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), tingkat konsumsi beras di DIY cukup tinggi. Sebaliknya, tingkat konsumsi ikan di DIY nomor tiga bawah secara nasional.

Anik Setyaningsih, mengaku senang ikut pelatihan ATI Produk Perikanan tersebut. Alasannya, dampak mengikuti pelatihan itu bisa mengetahui manfaat mengonsumsi ikan. Diakui, perempuan yang sehari-hari guru TK ini tingkat mengonsumi ikan di dusunnya masih rendah. “Agak sulit mencarinya.

Seminggu rata-rata sekali makan ikan. Kebanyakan yang dimakan ikan tawar seperti lele, gurami dan ikan asin,” tutur warga Dusun Gedangan, Hargomulyo ini. (kus/by/mo1)