Wilayah Perbukitan Krisis Air Bersih

BANTUL – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul mulai merumuskan strategi lain penanganan dampak musim kemarau. Solusi baru berupa pembangunan tempat penampungan permanen air hujan ini melengkapi dua upaya lain yang telah digencarkan. Yakni, droping air dan pembangunan instalasi penyediaan air bersih.

Menurut Plt Kepala Pelaksana BPBD Bantul Dwi Daryanto, strategi baru diperlukan lantaran masih banyak wilayah di Kabupaten Bantul yang kekurangan air bersih saat musim kemarau. Terutama, wilayah yang berada di kawasan perbukitan. Seperti sebagian wilayah desa di Kecamatan Piyungan, Pleret, Imogiri, dan Pundong. Dengan keberadaan bak penampungan air hujan tidak lagi terbuang sia-sia.

”Air bisa digunakan ketika musim kemarau,” jelas Dwi saat ditemui di rumah dinas bupati Bantul Selasa (30/10).

BPBD bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana menggarap program ini. Dwi optimistis program ini mampu mengantisipasi dampak kekeringan tahun depan.

Ketika disinggung mengenai wilayah mana yang paling terdampak kekeringan, bapak dua anak ini menyebut ada beberapa. Mayoritas wilayah yang berada di perbukitan. Di antaranya Desa Seloharjo, Wonolelo, Bawuran, Selopamioro, dan Wukirsari. Juga daerah perbukitan di tiga desa di Kecamatan Piyungan. Itu ditandai dengan masifnya permintaan droping.

”Sekali droping bisa satu hingga empat kali pengiriman,” sebutnya.

Dalam pengamatannya, berbagai wilayah terdampak kekeringan ini sebenarnya memiliki sumber mata air. Hanya, debitnya turun drastis saat kemarau panjang. Bahkan, ada pula yang mengering. Karena itu, Dwi berharap pertengahan November mulai memasuki musim hujan.

Lurah Desa Srimulyo Wajiran membenarkan sebagian wilayahnya terdampak serius kekeringan. Setidaknya ada 420 kepala keluarga (KK) di dua dusun yang mengandalkan droping air. Sebanyak 250 KK di antaranya di Dusun Ngelosari. Sisanya di Dusun Pandeyan. Di dua dusun ini BPBD mengirimkan bantuan droping air hingga lima tangki pengiriman sehari.

”Kalau masih kurang biasanya warga membeli air dengan harga Rp 150 ribu per tangki,” jelasnya.

Partilah, seorang warga Ngelosari mengungkapkan, wilayahnya mengalami kekeringan sejak delapan bulan lalu. Saking parahnya, tandon dengan kapasitas 5.000 liter air ludes dalam sehari.

”Karena digunakan warga satu RT. Kalau droping air kurang ya kami beli,” kata perempuan 32 tahun ini. (ega/zam/er/mo2)