Brayut terkenal kearifan lokalnya. Kaya budaya. Sarat edukasi. Ketua Desa Wisata Brayut Aloysius Sudarmadi bertekad terus menjaga kearifan lokal itu. Dengan menciptakan aneka inovasi baru.

DWI AGUS, Sleman

DESA ini pernah menjadi tuan rumah penyelenggaraan event besar. Ngayogjazz. Pentas musik yang digawangi seniman kondang Djaduk Feriyanto. Mendatangkan artis-artis terkenal ibu kota. Kenapa event sebesar Ngayogjazz digelar di Desa Wisata Brayut? Karena kekuatan kearifan lokalnya. Mulai sektor pertanian yang ijo royo-royo. Hingga beragam kesenian tradisionalnya. Juga masyarakatnya. Potensi itulah yang menjadi magnet wisata.

Brayut menjadi bagian Desa Pandowoharjo, Sleman. Luasnya kurang lebih 12 hektare. Diresmikan sebagai desa wisata pada 1999. Sampai sekarang bertahan dengan konsep pertanian dan budayanya.

Dari Simpang Empat Beran Jalan Magelang-Jogja ke utara sekitar dua kilometer. Lalu belok kanan di pertigaan pohon beringin. Sekitar satu kilometer. Sampai SMAN 2 Sleman. Di situlah lokasi Desa Wisata Brayut.

Adalah Aloysius Sudarmadi yang saat ini menjadi sesepuh desa wisata ini. Bukan pekerjaan mudah baginya untuk mempertahankan kekhasan Brayut. Terlebih untuk mempertahankan kearifan lokal. Yang dibangun oleh para pendahulunya.

Dia meyakini, dengan terus berinovasi niscaya sebuah desa wisata mampu bertahan. ”Semakin banyak inovasi, maka tingkat hunian terus meningkat. Bisa lebih dari dua hari,” tuturnya belum lama ini. “Harus diingat desa wisata itu basisnya aktivitas. Semakin banyak (aktivitas, Red) maka lama tinggal  tamu lebih panjang,” sambung Darmadi, sapaan akrabnya.

LOKAL: Sudarmadi menata alat permainan tradisional enggrang untuk dimainkan para tamu. Foto kiri,, rumah atas, rumah tradisional joglo.
(DWI AGUS/RADAR JOGJA)

Penampilan Darmadi cukup mencerminkan kondisi desa wisata yang dikelolanya. Sederhana. Berprofesi sebagai petani. Sesuai salah satu kekuatan Brayut. Pertanian. Bagi Sudarmadi, inovasi tak boleh sekadar wacana. Tapi tetap harus menonjolkan ciri khas sebuah desa wisata. Yakni ndeso.

Ndeso jangan diartikan ketinggalan jaman. Tapi justru sebagai keunggulan desa. Mulai potensi seni budaya. Hingga filosofi kehidupan masyarakat pedesaan. Interaksi dengan wisatawan, misalnya. Hubungan warga dengan tamu tak sekadar urusan bisnis. Tapi membaur. Sehingga tercipta suasana hommy. Para tamu dilibatkan dalam kegiatan masyarakat. Sehari-hari. Mulai bangun pagi. Hingga akan berangkat tidur. Tamu diajak bercocok tanam. Angon sapi. Memberi pakan ikan. Ikut memasak menu makan. Atau latihan gamelan bersama. Dengan begitu para tamu tidak hanya datang untuk menginap. Tapi bisa menyelami semua kegiatan dan makna menginap di desa. “Interaksi sosial semacam itu tentu tak diperoleh wisatawan yang menginap di hotel,” ujarnya.

Suguhan bagi para tamu benar-benar sederhana. Apa adanya. Tak ada pengelola desa wisata berseragam ala hotel. Semua itu terganti dengan keramahan warga. Hubungan tamu dan warga Brayut semakin erat saat makan bersama. Turis duduk satu meja dengan keluarga pemilik homestay. Makan menu tradisional. “Itulah yang kadang dicari para tamu. Dan tidak ditemukan di hotel,” tutur Darmadi.

Soal inovasi, Darmadi rajin bereksplorasi. Bertahan dengan kearifan lokal bukan berarti menerapkan dengan gaya tradisional secara kaku. Dia tetap mengikuti perkembangan zaman. Dan teknologi tentunya.

Lahan pertanian dia kemas menjadi sebuah atraksi bagi seluruh tamu. Jangan bayangkan tamu-tamu hanya duduk di pematang sawah sebagai penonton.

Tanpa ragu para pengelola desa wisata mengajak tamu untuk nyawah. Ikut berkotor-kotor ria di lumpur sawah. Bahkan diajak membajak sawah. Itulah kearifan lokal yang dimaksud Darmadi.

“Bagi warga Brayut ini kegiatan normal sehari-hari. Tapi bagi warga kota jadi pengalaman langka. Tak ada diperkotaan,” katanya.

Menurut Darmadi, perpaduan unsur tradisonal dan kemajuan teknologi adalah kolaborasi yang sangat indah. Terutama untuk menjaring segmen tamu milenal. Menghadirkan nostalgia dan romansa kehidupan pedesaan bagi seluruh segmen usia.

Seluruh elemen desa wisata juga harus bersinergi. Ini jadi kunci. Keterlibatan seluruh warga menyambut tamu merupakan konsep utama. Kekuatan desa wisata. Mulai anak muda, hingga para sesepuh desa. Semua terlibat. Dan berbagi peran. Sesuai usia dan kemampuan masing-masing.

Para pemuda dilibatkan dalam organisasi kepengurusan. Tidak sedikit pula yang menjadi tim promosi melalui beragam sosial media. Sedangkan para sesepuh desa mempertahankan seni bertani dan budayanya. “Intinya kolaborasi antarseluruh warga,” tegasnya.

Saat ini Brayut memiliki sedikitnya 20 homestay. Tersebar di berbagai lokasi. Total mamu menampung hingga 120 orang tamu. Homestay pun dikemas dengan kearifan lokal. Bangunannya tak terpisah dari rumah utama. Sehingga tamu dapat berinteraksi langsung dengan pemilik rumah. Seperti menjadi bagian keluarga sendiri. Itulah kekuatan Brayut.

Biaya menginap di homestay jangan dibayangkan seperti hotel. Karena tarifnya super murah. Sangat terjangkau. Apalagi untuk wisatawan perkotaan. Menginap semalam hanya Rp 80 ribu – Rp 110 ribu. Sudah termasuk makan sehat tiga kali sehari. Dengan menu tradisional. Gayeng makan bersama pemilik homestay. Siapa tertarik? (yog/rg/mo2)