JOGJA – Tahun lalu, aksi pentas lumba-lumba di perayaan Pasar Malam Sekaten diprotes. Oleh pecinta satwa. Yang menganggap sirkus lumba-lumba sebagai bentuk ekspoitasi hewan. Tahun ini ternyata kembali terjadi. Ada aksi lumba-lumba di Sekaten. Dan diprotes lagi. Oleh pihak yang sama.

Program Manager Animal Friend Jogja (AFJ) Angelina Pane menilai, sirkus lumba-lumba dan satwa langka tidak mengandung unsur edukasi. Meski promosi yang digemborkan sebagai sarana mengenalkan anak pada satwa liar. Menurut Angelina, sirkus lumba-lumba sarat ekspolitasi. Mulai pengangkutan, pemeliharaan, hingga cara melatih hewan yang dikenal lucu itu.
“Yang ada hanya sarana hiburan untuk mencari uang,” kecamnya kemarin (30/10).

Angelina miris melihat cara pemeliharaan lumba-lumba di area pelataran Sekaten. Satwa laut yang seharusnya hidup di alam liar itu tak seharusnya berada di area bising pasar malam. Selain itu, dugaan penggunaan klorin dalam air kolam dikhawatirkan mempengaruhi kesehatan lumba-lumba. “Masyarakat perlu tahu penderitaan satwa sirkus. Yang selama ini menjadi kedok untuk sarana edukasi,” ucapnya.

Lebih dari itu, lanjut Angelina, sirkus lumba-lumba bukanlah tontonan yang baik bagi anak-anak. Namun kenyataannya sirkus tersebut selalu dipenuhi penonton. Mengenai hal ini, Angelina menuding pengelola sirkus lumba-lumba telah mengerahkan massa penonton dengan mengundang anak-anak lewat lembaga sekolah. Ini bertentangan dengan nuraninya. Edukasi positif bagi anak-anak lebih baik dengan menganalkan habitat alami lumba-lumba. ”Bukan mempertontonkan satwa mendorong gerobak, berhitung, dan dijadikan sirkus keliling,” sindirnya.

Surat protes telah dilayangkan AFJ kepada Pemkot Jogja pada Sabtu (27/10). Hingga kemarin belum ada balasan maupun respons dari pihak berwenang.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jogjakata Junita Parjanti menyatakan hal berbeda. Sebagai penerbit izin sirkus lumba-lumba, Junita mengklaim pengelola telah memenuhi prosedur. Berdasarkan Peraturan Direktur Jendral Perlindungan dan Konservasi Alam Nomor : P.1/IV-SET/2014 tentang Etika dan Kesejahteraan Satwa. Itulah yang menjadi landasan BKSDA menerbitkan izin sirkus lumba-lumba milik PT Taman Impian Jaya Ancol ditampilkan di Sekaten.

Junita mengaku telah melakukan pengawasan dan pendampingan dalam pelaksanaan sirkus lumba-lumba. Mulai standar pengiriman hewan tersebut. Hingga kesiapan pengelola untuk merawat hewan selam itu di area pementasan. Hal terpenting yang harus jadi perhatian satwa mendapat isitirahat cukup dan diberi makan memadai.

“Kami melihat penyelenggara telah menyiapkan dokter hewan. Untuk memastikan kondisi kesehatan satwa,” katanya.

Junita tak menampik, lumba-lumba adalah satwa yang selayaknya hidup di alam bebas. Namun pementasan hewan liar untuk kepentingan edukasi diperbolehkan. Asal memenui prosedur kelayakan yang telah ditetapkan pemerintah.

Sementara itu, Jefferson Lanang Haryo Prakoso, pendamping sirkus lumba-lumba dan satwa liar, memastikan pengelola telah mengantongi izin resmi dari BKSDA Pusat di Jakarta. Lewat surat tersebut BKSDA mengizinkan PT Taman Impian Jaya Ancol membawa beberapa satwa untuk kegiatan di Alun-Alun Utara Jogja hingga 28 November mendatang. Di antaranya, dua ekor lumba-lumba, seekor singa laut, dan dua ekor berang-berang. (cr5/yog)