BANTUL- Satu lagi pedukuhan di Kabupaten Bantul bergerak sebagai sentra perekonomian baru. Tepatnya Pedukuhan Kiringan. Salah satu pedukuhan di Desa Canden ini bermetamorfosa menjadi pusat jamu gendong. Sedikitnya 132 warga Pedukuhan Kiringan berprofesi sebagai perajin jamu.

”Potensi jamu gendong menjanjikan. Bahkan, bisa menarik wisatawan,” jelas Bupati Bantul Suharsono di sela Festival Jamu Gendong di Pedukuhan Kiringan Minggu (28/10) malam.

Melihat potensi ini, Suharsono menilai, Pedukuhan Kiringan layak dijadikan sebagai desa wisata jamu gendong. Apalagi, jamu merupakan salah satu minuman khas Indonesia.

”Minum jamu termasuk budaya Indonesia,” ujarnya.

Menurutnya, butuh strategi lain untuk mengangkat produk jamu. Di antaranya dengan menawarkannya ke hotel, restoran, dan kafe. Agar pemasaran minuman menyehatkan ini kian masif.

Sutrisno, seorang perajin jamu gendong mengatakan, pemasaran jamu gendong telah merambah seluruh wilayah Bantul. Setiap perajin memiliki pelanggan setia.

”Jika sudah langganan sama si A ya A terus. Nggak mau pindah,” tuturnya.

Produksi jamu di Pedukuhan Kiringan telah berusia puluhan tahun. Diceritakan, sosok yang kali pertama memproduksi jamu adalah Joparto. Pada 1950 dia diminta abdi dalem untuk membuat jamu. Sebab, penghasilannya sebagai buruh batik minim. Joparto pun dilatih meracik jamu dengan resep keraton. Seiring waktu berjalan, Joparto memproduksi sekaligus menjual jamunya.

”Awalnya punya dua murid. Setelah beliau meninggal, dua murid itu menularkan ilmunya,” tuturnya. (cr6/zam/er/mo2)