JOGJA – Hanya memanfaatkan buis beton yang biasa dipakai untuk membuat selokan dan diletakan di depan pekarangan rumah, warga bantaran sungai Winongo bisa panen lele cendol. Dengan diameter satu meter dapat menampung hingga 1.000 ekor.

Setelah dibudidayakan selama sekitar dua bulan ini, warga di bantaran sungai Winongo bersama Forum Komunikasi Winongo Asri (FKWA) mengadakan panen raya perdana lele cendol sebanyak 550 kilogram Senin (29/10). Dinamakan lele cendol, karena saat disemai dalam buis, benih lele terkumpul dalam jumlah yang banyak seperti cendol.

Koordinator FKWA Kota Jogja Oleg Yohan mengatakan panen perdana tersebut sebagai batu loncatan pertama untuk memajukan perekonomian warga sekitar sungai Winongo, khususnya di Tegalrejo. Sebanyak 10 kelompok yang mendapat dana hibah dari BPD DIY telah berhasil membudidayakan lele.

“Hasil keuntungannya akan kami gunakan untuk membangun empat kelompok lagi,” jelasnya.

Pada awalnya, jelas Oleg, disemai benih lele cendol sebanyak 5.800 ekor dengan tingkat kematian 10 persen. Hasilnya dalam panen dua bulan berikutnya dihasilkan 5.200 ekor atau sekitar 500 kilogram. Medianya menggunakan buis beton yang biasa dipakai untuk membuta gorong-gorong. “Sangat efektif ketimbang keramba yang setiap saat bisa hanyut kalau sungai meluap,” tuturnya.

Pilihan budidaya lele, lanjut Oleg, juga didasari kebutuhan lele di DIJ yang masih sangat tinggi. Bahkan lele harus didatangkan dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur. Menurut dia jika kebutuhan ini bisa dipenuhi oleh peternak dari daerah sendiri, maka dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Harapanya tempat kuliner di DIJ bisa mengambil lele dari Winongo,” katanya.

Namun, para peternak masih mengkhawatirkan harga anjlok saat panen tiba. Oleg mengaku sedang mengupayakan agar ada regulasi untuk memproteksi peternak lele agar harga dapat stabil. Selain itu, ia juga sedang merancang pelatihan olahan lele seperti abon atau semacamnya agar harga jual bisa lebih tinggi.

Sedang Kepala Bagian Pengendalian Pembangunan Kota Jogja Wases menilai panen tersebut membuktikan pelatihan dan pendampingan yang selama ini dilakukan berhasil terwujud dalam aksi nyata. “Kalau ini perdana seharusnya nanti ada kedua, ketiga, dan seterusnya,” jelas dia. (cr10/pra/er/mo2)