YLPA Sebut Ada Siswa SD

SLEMAN – Disaat ada pasangan suami isteri yang mendambakan kehadiran buah hati, masih ada saja pasangan yang tega menggugurkan bayi yang dikandungnya. Beruntung jajaran Reskrim Polres Sleman dibantu warga bisa mengungkapnya.

Kasus itu berawal ketika warga curiga dengan gundukan tanah di pemakaman umum di Tambakbayan Caturtunggal Depok Sleman. Curiga, warga lalu menghubungi kepolisian setempat. Setelah dibongkar terlihat orok bayi yang belum sempurna.Tersangkanya adalah sepasang kekasih JPT, 19 dan PL 18. Keduanya dengan sengaja mengugurkan calon bayi menggunakan obat-obatan.

“Kedua tersangka sudah mengakui telah mengubur bayi itu. Kebetulan ada warga juga yang melihat keduanya sempat mondar-mandir di sekitar tempat kejadian perkara. Kejadiannya seminggu lalu, Senin malam (22/10),” jelas Kasat Reskrim Polres Sleman AKP Anggito hadi Prabowo, Minggu (28/10).

Berdasarkan penyidikan polisi kedua pasangan belum menikah. Usia janin saat digugurkan telah berusia lima bulan.

“Pengakuan para tersangka, baru pacaran Januari 2018. Iya, JPT yang menyuruh PL untuk mengugurkan kandungannya. Alasannya karena belum siap dan belum menikah,” ujarnya.

Kemudian PL sendirilah yang membeli sepuluh obat penggugur kandungan secara online. Usai mendapatkan obat, PL langsung mengonsumsi tujuh butir obat sekaligus.

Beruntung aksi tak beradab tersebut diketahui warga. Seorang warga, lanjutnya, sempat melihat kedua pasangan mendatangi pemakaman. Namun saat itu sang saksi tidak menaruh curiga mendalam. Barulah saat ditemukan gundukan tanah, kecurigaan terbukti.

Polisi berhasil menyita barang bukti berupa dua unit gawai dan tiga butir obat aborsi. Keduanya akan dijerat dengan pasal 346 KUHP. Adapula Pasal 80 Ayat (3) jo Pasal 76 C UU No.17/2016  tentang Perlindungan Anak karena tindakan kekerasan terhadap anak yang mengakibatkan kematian.

“PL sempat dirawat di rumah sakit, keduanya sudah diperiska. Bukan pelajar, status keduanya karyawan swasta,” katanya.

Terpisah, Ketua Umum Yayasan Perlindungan Anak (YLPA) Sari Murti aksi pengguguran kandungan menurutnya adalah efek domino dari fenomena aktivitas seksual yang semakin menerpa generasi usia muda.

Dekan Fakultas Hukum UAJY itu bahkan mengungkapkan pergeseran terjadi sangat ekstrem. Jika dulu terpaan menyerang remaja usia SMA kini bergeser. Bahkan berdasarkan observasi fenomena telah menjalar anak usia SD.

“Salah satunya penyebabnya ya terpaan informasi yang belum sesuai usianya. Ditambah lingkungan atau gaya pacaran yang kelewat batas,” jelasnya.(dwi/pra/zl/mo2)