JOGJA – Oligarki politik, atau kekuasaan yang dikuasai sekelompok kecil orang, masih jadi persoalan dalam politik di Indonesia. Termasuk hasil rilis Jaringan Muda Produktif Indonesia (JMPI), yang memunculkan 16 tokoh muda. Beberapa diantaranya masih dalam bayang-bayang orang tuanya.

“Indonesia sekarang, mendesak adanya literasi politik pada generasi milenial. Hasil survei (JMPI) ini menunjukan masih ada sosok di lingkaran oligarki,” ujar dosen Fisipol Universitas Atmajaya Lukas Ispandriarno saat menjadi pembahas hasil rilis JMPI Minggu (28/10).

Dari rilis yang dikeluarkan JMPI menampilkan 16 tokoh muda yang dianggap dekat dengan kalangan milenial dan bisa menjadi pemimpin masa depan. Mereka adalah Ustaz Abdul Somad Batubara, Yaqut Cholil Qoumas, Nadiem Makarim, Dahnil Anzar Simanjuntak, Romahurmuziy, Emil Elestianto Dardak, Ahmad Hanafi Rais, Agus Harimurti Yudhoyono, Dimas Oky Nugroho, Grace Natalie, Najwa Shihab, Sabrang Mowo Damar Panuluh (Noe). Fadly Amron, Adnan Purichta, Raja Sapta Oktohari, dan Adinda Ardiyansyah Bakrie.

Sedang juru bicara JMPI Subkhi Ridho mengakui untuk memutus mata rantai oligarki politik Indonesia tidak mudah. Tapi Subkhi menegaskan, meski tokoh muda yang dimunculkan masih terkait dengan elite politik masa lalu, itu tidak termasuk yang menjadi penilaian JMPI.

Menurut dia JMPI memang sengaja mengajukan 16 nama tokoh muda tersebut sebagai calon pemimpin masa depan Indonesia. Tokoh muda tersebut, lanjut dia, paling tidak bisa menduduki jabatan strategis di eksekutif maupun legislatif. “Malaysia saja sudah berani menampilkan anak muda sebagai menterinya,” jelas dia. (cr9/pra/zl/mo2)