Banyak cara bisa dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan. Yang paling sederhana lewat ucapan. Warga Dusun Kwagon, Sidorejo, Godean, Sleman memiliki cara lain. Untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Sang Pencipta.

JAUH HARI WAWAN S, Sleman

SEJAK lama masyarakat Padukuhan Kwagon menjadi pengrajin genting. Dan menjadikannya sebagai mata pencaharian utama. Gunung Kwagon menjadi sumber penghidupan warga setempat. Ya, itu lantaran bahan baku genting diperoleh dari dari gunung di tengah desa tersebut. Tanah liat Gunung Kwagon mengandung kaolin cukup tinggi. Bagus sebagai bahan baku genting.

Saat itu jalur pendakian ke Gunung Kwagon tak sebagus sekarang. Terlebih saat hujan. Jalan setapak licin dan kerap membuat warga terpeleset. Tak sedikit penambang tanah liat mengalami kecelakaan. Ketika menggali atau mengusung tanah liat. Ada penambang yang tepeleset dan jatuh dari tebing. Ada pula yang kelongsoran tanah dari atas tebing.

Tak ingin kecelakaan terus berulang, para tetua desa berinisiatif membawa sesajian. Sesuai kepercayaan masyarakat kala itu.

Untuk mengusir roh jahat yang mencelakai penambang. Masyarakat Jawa percaya hidup selalu berdampingan. Termasuk dengan mereka yang tak kasat mata. Seiring berjalannya waktu ritual itu kian menjadi tradisi. Namun tak lagi sebagai bentuk kepercayaan.

Sebaliknya, upacara selamatan digelar sebagai bentuk rasa syukur. Atas limpahan berkah dari Tuhan bagi warga Kwagon. Sekaligus doa untuk memohon keselamatan. Upacara digelar setiap Sapar (penanggalan Jawa). Sehingga dikenal dengan sebutan Saparan Kwagon. “Saparan Kwagon merupakan bentuk syukur kami kepada Sang Pencipta,” ungkap Dukuh Kwagon Sukiman Hadi Wijaya di sela Saparan Kwagon Minggu (28/10).

Saparan Kwagon dihelat seminggu. Sejak Minggu (21/10). Puncaknya kemarin. Labuhan sesajian di Gunung Kwagon. Tradisi ini telah menjadi bagian dari budaya masyarakat. Tak pelak, ratusan pasang mata menyaksikannya. Termasuk wisatawan luar daerah. Terlebih acara itu dimeriahkan dengan beragam kegiatan seni. Berupa tari-tarian.

Ada satu bagian yang tidak pernah terlewatkan. Fragmen “Dumadining Kwagon.” Dikemas dengan tarian. Tari kreasi itu menceritakan asal mula Padukuhan Kwagon, hingga terkenal sebagai sentra penghasil genting. “Padukuhan Kwagon muncul sejak zaman Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) V,” tutur Sukiman, yang juga abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Bagi Sukiman, Saparan Kwagon menjadi sarana menjaga tradisi. Apalagi masyarakat Jawa kental akan tradisi dan nilai luhur. “Itu tidak boleh luntur,” tegasnya. Saparan Kwagon kali ini menyediakan enam sesajian. Semuanya diusung ke Gunung Kwagon. Berupa gunungan langan, gunungan putri, tumpeng robyong, gunungan apem, gunungan lempung, dan replika genting. Sesampai di kaki Gunung Kwagon, sesepuh desa setempat memimpin doa. Selanjutnya, seluruh isi gununga diperebutkan warga. Kecuali gunungan lempung. Gunungan tanah liat ini dibagi sesuai jumlah pengrajin genting di Kwagon. Sebagai campuran tanah liat produksi genting.

Bagi sebagian masyarakat, semua isi sesajian bisa mendatangkan berkah. Inilah yang mendorong warga luar Sleman berbondong-bondong ke Kwagon untuk mengikuti ritual Saparan.

Wahyuni, misalnya. Warga Samben, Sedayu, Bantul itu sengaja meluangkan waktu ke Kwagon kemarin. Untuk ngalap berkah. Meski usianya menginjak 58 tahun, Wahyuni rela berjibaku dengan ratusan orang untuk berebut isi gunungan. Beruntung dia mendapat buah jambu, beberapa apem, dan kacang panjang.

“Ini untuk dimakan dan akan saya bagikan kepada keluarga. Untuk kesehatan, keselamatan, dan berkah,” ungkap Wahyuni yang baru sekali mengikuti prosesi Saparan Kwagon. Dia berniat datang lagi ke Kwagon tahun depan. Untuk mengikuti acara serupa. Ngalap berkah. (yog/rg/mo2)