Becak Maju Tutup Gelar Potensi Kampung Wisata 2018

Kampung Wisata Becak (Bener-Kricak) Maju, Tegalrejo, Yogyakarta punya dua agenda kegiatan rutin. Yakni menangani kebersihan sungai dan mengembangkan kesenian di bantaran Sungai Winongo yang membelah Kelurahan Bener dan Kricak. Di kedua wilayah ini berkembang aneka kesenian.

Di Kelurahan Bener sebut saja  tari Gepyok Anting-anting, angguk,  tari gambyong dan tari tek-tek. Ada juga gedruk serta jatilan. Sedangkan di  kelurahan tetangga, Kricak berkembang rebana, warokan dan wayang. Di kelurahan ini juga berkembang permainan tradisional seperti egrang serta gangsingan.

Ketua Kampung Wisata Becak Maju Rowandi mengatakan, di Kelurahan Kricak ada Kampung Jatimulyo dan Bangunrejo. Beberapa kampung punya ciri kesenian sendiri.

Jatimulyo dikenal sebagai kampung kuliner. Produknya dijual di sentra kuliner Karangwaru Jalan Magelang seperti kue moci. “Pemasarannya ke hotel-hotel,” terangnya di sela Gelar Potensi Kampung Wisata Kota Yogyakarta Minggu (28/10). Kampung Wisata Becak Maju merupakan kampung wisata ke-17 yang mengikuti kegiatan gelar potensi yang diinisiasi Dinas Pariwisata DIY.

“Sedangkan di Kampung Bangunrejo terkenal warokan dan tek-tek,” lanjutnya.

Tidak hanya itu, Kampung Wisata Becak Maju juga menyimpan bangunan-bangunan bersejarah. Di antaranya Bendungan Bendolole yang dibangun di era penjajahan Belanda. Konon salurannya sampai ke Keraton Yogyakarta dan Tamansari. Juga ada lumpang tempat memberi makan kuda Pangeran Diponegoro.

“Bekas Kemantren dan kantor pembantu wali kota di Jalan Magelang  juga cagar budaya. Sekarang untuk sekretariat KPU Kota Yogyakarta. Harapannya, setelah dipromosikan lewat gelar potensi kampung wisata ini dapat menarik wisatawan dan menggiatkan ekonomi warga,” imbuh Rowandi.

Kepala Seksi Kelembagaan Dinas Pariwisata DIY Titik Sulistyani mengatakan, Kota Yogyakarta memiliki 17 kampung wisata. Dinas Pariwisata DIY memiliki program strategis pengembangan kampung dan desa wisata se-DIY.

Dikatakan, sejumlah kampung wisata di Kota Yogyakarta sudah bertahun-tahun  terbentuk. ” Tapi gaungnya kurang terdengar. Kegiatan gelar potensi untuk melihat potensi masing-masing kampung wisata. Setelah digelar,  potensinya mulai tampak. Para pengelola kampung wisata hanya tidak tahu cara mengembangkan. Semangatnya perlu lebih dimaksimalkan,” ungkapnya.

Titik berharap, ke depan, kampung-kampung wisata harus lebih maju. Para pengelola bersama warganya harus membangun suasana guyub dan meningkatkan semangat gotong-royong .

“Nanti dinas tinggal memolesnya. Dengan kegiatan ini kampung wisata dapat go internasional dengan standardisasi Asia Tenggara,” jelasnya. (riz/kus/zl/mo2)