SLEMAN- Kabupaten Sleman menjadi penghasil komoditas beras terbesar di DIJ. Data dinas pertanian, pangan, dan perikanan (DP3) menunjukkan produksi beras mengalami surplus hingga 100 ribu ton. Kendati luas lahan pertanian di Sleman hanya 18 persen dari total luas wilayah DIJ.

Atas hasil positif itulah Pemkab Sleman bertekad mewujudkan swasembada beras. Diawali dengan peluncuran Beras Sleman.

“Untuk sementara Beras Sleman kami salurkan bagi aparatur sipil negara (ASN),” kata Kepala DP3 Sleman Heru Saptono di kantornya Jumat (26/10).

Menindaklanjuti program tersebut, lanjut Heru, petani harus bisa memproduksi sedikitnya 60 ton beras per tahun. Sedangkan beras yang disalurkan untuk mencukupi kebutuhan ASN sekitar 6 ton per bulan.

“Dengan kondisi surplus ini, yang harus ditingkatkan adalah kualitas, kuantitas, dan kontinyuitasnya,” ujar Heru.

Beras Sleman juga mulai dipasarkan di toko-toko swalayan. Meski jumlahnya masih sedikit. Sekitar 4 ton per bulan. Melihat tren hasil panen tahunan Heru optimis dapat mencukupi kebutuhan pasar.

Guna menjaga jumlah produksi, DP3 menggandeng petani. Untuk pemberdayaan dan pendampingan. Keja sama itu disebut three leg atau tiga kaki. Pertama dibentuk di Sidomulyo, Godean. Wilayah ini mewakili Sleman barat. Lalu Sleman tengah di Ngaglik, dan Sleman timur di Berbah.

Untuk menjaga kualitas produksi DP3  menerjunkan petugas pengawas mutu. Sedangkan untuk kontinyuitas melibatkan Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat (LDPM). Menurut Heru, LDPM membantu penguatan modal petani hingga Rp 100 juta. “LPDM juga bertugas menyerap padi ketika panen raya. Dengan harga yang pantas. Sehingga petani tidak dirugikan,” jelasnya.

Tak kalah penting, DP3 juga mengoptimalkan kinerja sistem pertanian melalui bantuan alat mesin pertanian (alsintan) dan pompa air. “Agar produksi pertanian tetap terjaga,” sambung Heru.

Lebih lanjut dikatakan, produktivitas beras di Sleman saat ini mencapai 6,3 ton per hektare. Sedangkan indeks penanaman (IP) berkisar 2,3 – 2,7. Artinya, dalam setahun bisa lebih dari dua kali tanam padi.

Kendati demikian, Heru mengakui musim kemarau panjang berpengaruh signifikan terhadap hasil panen. Terjadi penurunan produksi. Namun dia optimistis produksi padi di Sleman tetap mengalami surplus. “Ini yang membuat kami yakin Sleman mampu swasembada pangan,” katanya.

Pada musim tanam Oktober 2018 hingga Maret 2019, DP3 menargetkan perluasan lahan tanam hingga 2.500 hektare. Meski terkendala musim, Heru menilai sebagai suatu tantangan bagi petani. Sebab saat ini terjadi pergeseran musim hujan yang mempengaruhi waktu tanam.

“Tapi kami optimistis. Paling tidak lahan padi di Sleman menyentuh 2.000 hektare,” ucapnya.

Memasuki musim penghujan, komoditas padi menjadi primadona utama. Karena itu DP3 terus berupaya memperbaiki saluran irigasi. Serta menambah embung. Total ada lima embung. Masing-masing bervolume 600 meter kubik.

Upaya menjaga ketahanan pangan di tingkat keluarga juga terus digalakkan. Setiap keluarga di Sleman didorong memanfaatkan lahan pekarangan. Untuk ditanami sayuran atau pohon buah. Setidaknya hasil panen bisa mencukupi kebutuhan keluarga. (*/har/yog/fj/mo2)