Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menggelar Pelatihan Mahasiswa Kader Bangsa (PMKB) tingkat nasional di SMA Muhammadiyah Al Manar, Desa Brosot, Kecamatan Galur, Kulonprogo, selama tiga hari hingga Minggu besok (28/10). Kegiatan ini dibuka secara langsung oleh Wakil Rektor III UAD Dr Abdul Fadlil MT.

Ada 108 mahasiswa dari 21 Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) yang tersebar di 11 provinsi se-Indonesia yang mengikuti PMKB. Di antaranya dari Universitas Aisyiyah (Unisa) Jogjakarta, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas  Muhammadiyah Surakarta (UMS), Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), UM Bengkulu, Uhamka, UM Tasikmalaya, UM Cirebon, UM Magelang, UM Purwokerto, UM Purworejo, Unimus, UAD, UM Aceh, dan UM Surabaya.

Selebihnya ada dari UM Banjarmasin, UM Kalimantan Timur, STKIP MBB, UM Jember, UM Sidoarjo, Unismuh Makassar, dan UM Kendari. Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama UAD Jogjakarta dengan Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Wakil Rektor III UAD Abdul Fadlil mengatakan, mahasiswa perlu memahami dan menyadari perannya sebagai kader penerus bangsa. Ini karena mereka yang akan menjadi pelopor, mengembangkan dan meneruskan eksistensi Muhammadiyah. Menjadi kader umat yang berperan menjaga eksistensi umat Islam di Indonesia.

“Kegiatan ini menjadi salah satu dasar pijakan untuk mengantarkan mahasiswa sukses di masa depan, sekaligus menambah poin Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI). Kami berharap mereka menjadi kader Muhammadiyah, kader umat, dan kader bangsa yang bertanggung jawab,”  katanya Jumat (26/10).

Kepala Biro Mahasiswa dan Alumni (Bimawa) UAD Dr Dedi Pramono M. Hum menambahkan, PMKB ini merupakan pilot project bagi PTM di seluruh Indonesia. Antusiasme peserta yang sangat tinggi menjadi kebanggaan, terlebih mereka datang dari seluruh provinsi di Indonesia.

“Mereka adalah mahasiswa pilihan. Termasuk dari UAD, dari 26 ribu mahasiswa hanya diambil sekitar 60 mahasiswa saja, 20 mahasiswa di antaranya adalah mahasiswa teladan dari masing-masing fakultas,” ucapnya.

Diungkapkan, peserta pelatihan akan mengikuti tiga sesi acara. Hari pertama seminar nasional kebangsaan, hari kedua pelatihan soft skill kader bangsa dan hari terakhir pengabdian masyarakat, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Tema yang diangkat juga disesuaikan dengan perkembangan zaman dan globalisasi.

Globalisasi telah memicu problematika sirnanya batas-batas kebangsaan, bahkan cara berpikir generasi muda tentang nasionalisme. Kegiatan ini juga menjadi salah satu upaya untuk mengembalikan kader bangsa agar tetap memiliki jati diri bangsa. Mereka butuh penyadaran dan strategi dalam menghadapi zaman.

Tidak hanya butuh keilmuan harus kuat, soft skill juga harus kuat, kemampanan idiologi harus hebat. Penguasaan bahasa asing perlu, namun tanpa harus merendahkan bahasa kita sendiri. Pelatihan tidak hanya diisi teori saja, peserta juga diajak terjun langsung ke masyarakat.

“Peserta akan mendapat tiga jenis sertifikat, di antaranya sertifikat seminar, pelatihan soft skill, dan pengabdian kader kebangsaan. Implementasi pelatihan langsung terjun ke masyarakat,” ungkapnya.

Wakil Rektor IV Prof Dr Sarbiran M.Ed, Ph.D memberikan empat frasa motivasi bagi peserta. “Aku pikir, aku rasa, aku bisa, aku sukses. Dengan kata-kata motivasi ini kami berharap mahasiswa menjadi berpikiran positif dan visioner. Seperti apa pun permasalahannya, harus bisa memecahkan dan menemukan solusi,”  tandasnya.

Salah seorang peserta, Lukman Abdurahman, mahasiswa semester VII Prodi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Agama Islam, UAD, menegaskan, pelatihan ini cukup hebat dalam memberikan wawasan kebangsaan dengan lingkup nasional untuk PTM di Indonesia.

“Ini bentuk kepedulian bersama, banyak hal-hal yang bisa dikembangkan. Kegiatan ini baru kali pertama dilaksanakan, ke depan bisa diagendakan secara rutin agar terlihat manfaatnya,” ujar Lukman yang juga Presiden BEM UAD Jogjakarta ini.

Disinggung tema yang diangkat, menurutnya, menarik sekali sesuai apa yang terjadi dan berkembang dewasa ini. Dikatakan, sebagai kader bangsa harus benar-benar mengikuti dan menyesuaikan perkembangan zaman.  (tom/laz/rg/mo2)