Guna menyiapkan mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) khususnya serta Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) menjadi kader-kader bangsa yang berkualitas, UAD dan Majelis Pendidikan, Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, mengadakan Pelatihan Mahasiswa Kader Bangsa Tingkat Nasional Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Kegiatan dilaksanakan selama tiga hari (26- 28 Oktober) di SMA Muhammadiyah Al Manar Galur, Kulonprogo.

KEPALA Biro Kemahasiswaan dan Alumni, Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Dr. H. Dedi Pramono, M.Hum mengatakan, di setiap era, mahasiswa punya tantangan masing-masing. Termasuk saat ini, yakni di era globalisasi, informasi, dan teknologi. Sehingga solusi dan pendekatannya, harus beda dengan zaman dulu.

”Beda zaman dulu dan sekarang. Kalau dulu, era kami, masih memiliki nasionalisme yang kental, keIndonesia-an, dan masa perjuangan. Saat ini tantanganya lain,” kata Dedi Pramono kepada Radar Jogja (23/10).

Menurutnya, karena pengaruh globalisasi, generasi saat ini tidak lagi berpikir batas negara dan teritorial. Mereka bisa bekerja di manapun dan bahkan banyak yang ingin bekerja di luar negeri. Padahal, tenaga dan kemampuan mereka akan lebih maksimal jika misalnya bekerja di pedalaman dan pelosok Indonesia, seperti Papua.

”Papua dianggap lebih jauh daripada Singapura. Padahal Papua masih di negara sendiri. Itu juga karena globalisasi menerabas ruang dan waktu,” imbuhnya.

Dampak globalisasi tersebut, lambat laun mengikis karakter asli bangsa Indonesia, kearifan lokal semakin tersisihkan oleh kemajuan zaman. Padahal, bangsa yang besar, maju karena tetap menjaga nilai-nilai tradisi yang telah diturunkan para leluhur. ”Jepang dan Korea misalnya, walaupun mereka berpikiran global, tetap locally, menjaga local wisdom mereka yang telah mengakar,” bebernya.

Berangkat dari kondisi tersebut, UAD dan Majelis Pendidikan, Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengadakan Pelatihan Mahasiswa Kader Bangsa Tingkat Nasional Perguruan Tinggi Muhammadiyah tersebut. ”Acara ini merupakan sebuah tuntutan, baik dari sisi kebangsaan maupun global. Sebab, kalau dilihat, kondisi riil sekarang, ada keresahan mulai pudarnya rasa ke-Indonesia-an dan kebangsaan dalam diri anak muda,” lanjut Dedi.

Sebagai Biro Kemahasiswaan, pihaknya merasa memiliki inisiaitif untuk bisa mengembalikan anak muda, terutama mahasiwan agar kembali memahami kebangsaan dan ke-Indonesia-an mereka. Sehingga menamakan pelatihan tersebut untuk mahasiswa kader bangsa Indonesia. Jika sebelumnya kegiatan ditangani mahasiswa, tahun ini ditangani biro mahasiswa agar terpusat. ”Harapannya dapat dilakukan secara teratur, dan terukur,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, diisi seminar nasional dengan pembicara dari mahasiswa. Terdiri dari sekitar 44 makalah yang akan dipresentasikan secara maraton. Selain itu, ada pelatihan soft skill dan kemampuan negosiasi, dan dilanjutkan dengan pengabdian masyarakat di sekitar lokasi kegiatan.

”Kami melakukan latihan di tempat yang memang membutuhkan bantuan. Secara riil, yaitu di SMA Al Manar milik Muhammadiyah. Dulu siswanya banyak, sekarang tinggal 7, di Galur Kulonprogo. Gedungnya bagus, tapi tidak terurus,” ungkapnya.

Pihaknya berharap dapat memberikan penyadaran pada peserta bahwa mereka perlu menyelamatkan aset seperti sekolah tersebut. Jangan sampai sekolah tersebut mati terbengkalai. (*/riz/jko/rg)