SLEMAN – Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Muhammad Natsir mengatakan hasil riset di Indonesia yang menjadi startup mengalami peningkatan pesat. Terutama dalam lima tahun terakhir.

Natsir mengatakan pada 2014 hanya ada 15 startup di Indonesia. Pada 2015 menjadi 52 buah. Lalu pada 2016 meningkat menjadi 203, dan 2017 mencapai 661 startup. Pada 2018 melejit hingga 956, melebihi target 850 startup.

“Akhir 2019 targetnya bisa punya 1.000 startup,” ujar Natsir saat meresmikan Inovator Inovasi Indonesia Expo (I3E) 2018 di Jogja City Mall, kemarin (25/10).
Sehingga, kata Natsir, Indonesia dapat mengalahkan Iran. Negeri para mullah tersebut menciptakan 1.000 startup dalam waktu dua kali lebih lama yakni 10 tahun.

Produk Aswatani Kota Bogor merek CocoVine terpilih jadi produk lima besar nasional dalam pameran tersebut. Produk CocoVine merupakan sinergitas BPATP-AgroInovasi-Balitbangtan-Kementerian Pertanian.

Natsir ingin hasil inovasi riset benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Mampu memerkuat pasar mencari investor. I3E berlangsung hingga Minggu (28/10).

Natsir mengatakan, pihaknya tengah menyiapkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Sistem Inovasi Nasional (Sinas). RUU tersebut sebagai perlindungan terhadap periset dan inventor.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIJ Tri Saktyana mengatakan perkembangan startup UMKM di DIJ paling unggul di Indonesia. ‘’Baik yang berbasis digital maupun non-digital,’’ katanya.

Berbagai penghargaan telah diraih. Khususnya startup berbasis digital yang dikawinkan dengan seni seperti film animasi. “Siapa yang nggak kenal film Battle of Surabaya? Itu buatan mahasiswa Jogja,” ujarnya.

Tri mengatakan, pada enam bulan pertama 50 persen startup berhasil. Separonya berganti usaha atau mundur sebentar, lalu bangkit lagi. Diperlukan kegigihan membangun startup.

Faktor kegagalannya antara lain tidak tahan mendapat kritikan konsumen. Sulit mendapat bahan baku setelah proses produksi, hingga gonta-ganti selera.
“Apalagi startup kebanyakan pelakunya anak muda. Mood-nya belum stabil, masih suka ganti selera,” jelasnya. (tif/iwa/fj/mo1)