KULONPROGO – Hingga Kamis (25/10) Pemkab Kulonprogo belum juga mencairkan dana tali asih tanah Pakualamanaat Grond (PAG) terdampak proyek New Yogyakarta International Airport (NYIA). Meski teknis perhitungan nilai tali asih telah mengerucut, pemkab setempat merasa perlu membahas detail pencairan dana tali asih senilai Rp 25 miliar itu. Bagi para petani penggarap lahan PAG terdampak NYIA. Sebanyak 481 orang. Tersebar di empat desa. Sindutan, Palihan, Jangkaran, dan Glagah.

“Yang sudah dibahas kan baru luasan lahan. Besok (hari ini) kami bahas besaran uangnya,” ujar Kasi Inventarisasi dan Identifikasi Pertanahan, Dinas Pertanahan dan Tata Ruang Kulonprogo Elda Triwahyuni kemarin. Pertemuan dengan pemerintah desa dan paguyuban penggarap PAG direncanakan di kantor dinas pekerjaan umum, perumahan, dan kawasan permukiman.

Sebagaimana diketahui, kesepakatan besaran tali asih bagi tiap-tiap petani dihitung berdasarkan luas lahan garapan masing-masing. Nilainya dihitung per meter luas lahan. Sedangkan total luas lahan 160,2 hektare. Tepatnya 1.602.988 meter persegi. Dengan begitu nilai per meternya Rp 15.595,87. Itu jika total nilai tali asih dibagi habis luas lahan. Sebab, pihak desa juga bakal mendapat tali asih untuk fasilitas sosial dan fasilitas umum.

Elda membenarkan hal tersebut. Namun hasil pembagian yang tidak bulat menjadi persoalan tersendiri. Apalagi ada angka ganjil di belakang koma. “Itu juga yang akan kami bahas,” katanya.

Alasan itu pula yang membuat Elda enggan membeberkan nilai tali asih yang bakal diterima setiap petani. Berikut nama-nama calon penerimanya. Padahal data luas lahan garapan tiap petani telah dia pegang. Elda menolak membeberkan data tersebut. Alasannya, menghargai kesepakatan tahapan pencairan tali asih.

“Nanti dilihat setelah diumumkan saja. Detail dengan luas dan uang yang diterimakan kepada masing-masing warga,” kelitnya.

Sebelumnya, Radar Jogja memperoleh informasi setiap petani di Desa Palihan rata-rata menggarap lahan antara 1.000 – 3.000 meter persegi. Data tersebut berdasarkan hasil pengukuran petugas Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kulonprogo atas permintaan pemerintah desa setempat. Pada 2010 lalu.

“Sebagian besar bidang dikelola untuk lahan pertanian,” ungkap Kades Palihan Kalisa Paraharyana.

Kabid Pertanahan Sugimo menambahkan, setiap calon penerima tali asih diminta membuka rekening. Agar setelah berita acara serah terima diteken pihak-pihak terkait, dana bisa segera cair. Dengan catatan tak ada komplain atau masalah lain atas pengumuman daftar penerima dan nilai tali asih yang diterimakan.

Teknis pencairan tersebut, menurut Sugimo, sesuai petunjuk Kadipaten Puro Pakualaman. Sebagai pihak yang memberi tali asih. Dana didistribusikan melalui pemerintah desa. Supaya lebih gampang. “Pemkab tidak bisa intervensi apa pun,” katanya.

Data nominatif pernerima dana tali asih akan ditempel di papan pengumuman. Di masing-masing desa. “Prinsipnya lebih cepat lebih baik,” ujar Sugimo.(tom/yog/by/mo1)