Pemerintah Kecamatan Sedayu Razia Reklame Liar

BANTUL– Reklame dan papan iklan di jalanan menjadi sampah visual pengotor suatu wilayah. Di Kabupaten Bantul pun banyak reklame dan spanduk tak berizin. Sebagian bahkan dipasang di titik-titik larangan. Seperti spanduk yang dipasang melintang jalan. Atau dipasang di pinggir trotoar. Bahkan tak sedikit media iklan ditempel di tiang traffic light.

Larangan itu ditegaskan dalam Peraturan Daerah Bantul Nomor 20 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Reklame dan Media Informasi. Disebutkan, reklame dan sejenisnya dilarang dipasang di trotoar, median jalan, dan jembatan. Itu karena bisa mengganggu pengguna jalan. Reklame juga dilarang dipasang di pohon, tiang listrik, tiang telepon, dan rambu lalu lintas.

Sampah visual di wilayah Bantul cukup marak di Kecamatan Sedayu. “Ada ratusan spanduk yang harus dicopot karena melanggar aturan,” tegas Kasi Keamanan dan Ketertiban Kecamatan Sedayu Sumardi di sela razia reklame Rabu (24/10). Setiap reklame atau spanduk yang dibredel selanjutnya disita. Kemudian diserahkan kepada Satpol PP Bantul untuk ditindaklanjuti secara hukum. Dicari tahu siapa pemasangnya. Untuk diberikan pembinaan.“Pemasang iklan kami beri surat teguran,” katanya.

Selain ditegur secara tertulis, para pelanggar diminta hadir ke kecamatan. Untuk diberi tahu tata cara pemasangan reklame secara benar. Sesuai aturan.

Menurut Sumardi, pelanggaran pemasangan reklame terjadi akibat masih banyaknya masyarakat tak memahami regulasinya. Bahkan tak sedikit yang mempercayakan pemasangannya kepada orang lain. ”Karena sama-sama tidak paham ya menyalahi aturan. Tapi tak sedikit yang sudah izin pasang reklame,” ungkapnya.

Sumardi berharap, penertiban reklame melanggar bisa memberikan dampak positif bagi masyarakat. Terutama menumbuhkan kesadaran untuk taat prosedur. Sekaligus mendukung wilayah Bantul bebas sampah visual. Operasi penertiban reklame dilakukan di sepanjang Jalan Wates. Meliputi empat desa. Yakni Argosari, Argomulyo, Argodadi, dan Argorejo.

Camat Sedayu Fauzan Musrifin mengakui, wilayahnya termasuk paling vaforit untuk pemasangan reklame dan spanduk. Didominasi iklan perumahan. Terutama di jalan-jalan utama. Hanya, sebagian besar adalah reklame liar. Alias tak berizin.

“Sudah tak berizin, pemasangannya pun tidak tertib,” sesalnya. Fauzan memastikan hanya reklame berizin yang dipasang sesuai aturan tak akan dicopot. Juga reklame yang dipasang pada tempat sesuai peruntukannya. Meski pemasangannya menggunakan tiang sendiri.  ”Reklame menjadi sampah visual apabila penempatannya tidak sesuai prosedur,” tegasnya. (cr6/yog/zl/mo2)