Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) merupakan pendekatan untuk merubah perilaku higiene dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat. Yaitu melalui metoda pemicuan. Lima pilar STBM yaitu Stop Buang Air Besar Sembarangan (StopBABS), Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), Pengamanan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga (PAM-RT), Pengelolaan Sampah Rumah Tangga (PSRT), dan Pengelolaan LimbahCair Rumah Tangga (PLRT).

Keberhasilan STBM dapat dilihat dengan menurunnya kasus kesakitan dan kematian akibat diare dan penyakit menular lain, seperti kolera, tifus, disenteri, hepatitis A, polio, atau demam berdarah. Keadaan sanitasi dan higiene, khususnya kebiasaan BAB dan cuci tangan pakai sabun telah terbukti berpengaruh terhadap stanting atau pertumbuhan balita yang terhambat. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menunjukkan stanting lebih tinggi padakeluarga yang tidak menggunakan jamban atau menggunakan jamban tidak sehat sebesar 35,5 persen dibanding pengguna jamban sehat sebanyak 23,9 persen. Dari sisi perilaku pengolahan air minum, prevalensi stanting keluarga yang menggunakan air minum diolah juga lebih rendah hanya 27,3 persen dibandingkan keluarga yang menggunakan air minum tidak diolah yang tercatat 38 persen.

Dinas Kesehatan telah melakukan advokasi kepada pemangku kepentingan, sosialisasi kepada masyarakat, pelatihan pelaksanaan program STBM, pemberian stimulan bahan pemasangan jamban dan septic tank, pembentukan tim STBM, pembangunan IPAL komunal bersama DPUPKP, pembentukan bank sampah bersama DLH, dan deklarasi 5 pilar STBM tingkat Kota pada 13 September lalu.

Yogyakarta meraih penghargaan STBM Berkelanjutan Eka Pratama dari Kementerian Kesehatan, karena berstatus Open Defecation Free(ODF) atau warganya sudah 100 persen tidak BAB Sembarangan. Yogyakarta dapat meraih penghargaan STBM Utama jika semua elemen masyarakat berperan serta secara aktif melakukan 5 pilar STBM, namun mencegah timbulnya penyakit dan terjaganya kesehatan adalah hal yang utama. (*/pra/zl/mo1)