JOGJA – Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan mengincar kelompok usaha informal sebagai peserta. Terlebih mereka juga memiliki risiko yang sama dalam kecelakaan kerja.

“Semua pekerja rentan yang tidak mampu melindungi diri menjadi target kepesertaan,” ujar Deputi Direktur BPJS Ketenagakerjaan Wilayah DIJ –Jateng Muhammad Triyono kemarin (24/10). Dirinya menyebut seperti buruh gendong, tukang becak hingga tukang parkir. “Termasuk tukang parkir liar, kami tidak lihat resmi atau liarnya tapi risiko kerjanya,” tambah dia.

Data yang dimiliki BPJS Ketenagakerjaan sendiri, di wilayah DIJ dan Jateng kepesertaan pekerja non formal sudah mencapai 230 ribu. Sebanyak 34 ribu diantaranya berada di wilayah DIJ. “Termasuk tim relawan SAR itu beberapa juga sudah terdaftar,” paparnya.

Mantan Kepala Cabang BPJS Ketenagakerjaan Cabang Jogjakarta itu menambahkan untuk memperluas cakupan, iuran yang dibebankan juga dibuat semurah mungkin, yaitu Rp 16.800 per bulan. Dengan iuran tersebut ahli waris akan mendapat Rp 24 juta jika pekerja meninggal dunia. Bahkan jika meninggal karena kecelakaan jumlah bisa lebih besar. “Supaya jika ada pekerja yang meninggal, keluarga yang ditinggalkan tidak jatuh miskin,” katanya.

Sedang Kepala Cabang BPJS Ketenagakerjaan Cabang Jogjakarta Ainul Khalid menyatakan iuran tersebut sudah sangat murah dibanding dengan keuntungan yang didapat hingga Rp 24 juta. “Kalau hitungannya butuh 119 tahun untuk iuran Rp 16.800 sampai Rp 24 juta. Intinya tidak pernah rugi,” tuturnya. (cr7/pra/zl/mo1)