Puluhan rekan kerjanya  memberi ucapan selamat kepada Sefriani, usai resmi naik jabatan menjadi profesor. Meski telah menyandang status sebagai guru besar Ilmu Hukum Internasional, Sefriani sempat nyaris kehilangan kesempatan itu.

FAIRIZA INSANI, Sleman

Dr Sefriani SH, M.Hum baru saja resmi menyandang gelar profesor di Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta, tepatnya sejak 16 Oktober 2018. Dia merupakan salah satu perempuan yang berhasil memperoleh gelar guru besar dari 56 profesor yang ada di Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Jogjakarta.

Komitmennya untuk bisa sampai pada tahap itu bukan tanpa alasan. Sefriani mengaku ingin senantiasa memberi manfaat sebanyak mungkin bagi orang lain. Manfaat itu khususnya dia curahkan pada pendidikan, institusi, keluarga, serta bangsa, dan negara.

Kegemarannya dalam hal membaca dan menulis, diakui menjadi salah satu sarana untuk bisa mewujudkan keinginan tersebut. “Saya senang menulis dan membuat buku. Sehingga jika saya meninggal nanti, buku saya masih bisa dibaca dan bermanfaat untuk orang lain,” ujarnya saat ditemui usai acara serah terima jabatan di Gedung Sardjito UII (16/10).

Perempuan kelahiran 6 September 1969 ini menjelaskan, banyak sosok yang menjadi inspirasinya untuk terus berkembang di dunia pendidikan. “Para senior nampaknya menjadi inspirasi saya ya,” ujarnya, sembari berpikir. Sefriani melihat para seniornya telah banyak memberi manfaat untuk orang lain. Dia pun berharap bisa melakukan hal yang sama.

Selain itu, banyaknya buku dan jurnal penelitian yang dia baca, kian membuka wawasan terhadap pendidikan, khususnya bidang ilmu hukum internasional. Bagi dia, bacaan-bacaan tersebut juga menjadi inspirasinya untuk terus memajukan ilmu hukum internasional.

Ibu dua anak ini pun ternyata memiliki beberapa kekhawatiran terkait ilmu hukum internasional. “Di UII sendiri peminat Ilmu Hukum Internasional paling sedikit,” katanya sambil mengernyitkan dahi. Sefriani melihat banyak mahasiswa yang mungkin takut ketika mendengar ‘internasional’ yang terkesan harus pandai berbahasa Inggris.

Tak hanya itu, penerapan ilmu hukum internasional pun nampak sulit dan masih sekadar penerawangan. “Beda halnya jika kita mempelajari hukum perkawinan yang langsung kena ke kehidupan sehari-hari,” kata alumnus S3 UGM ini.

Oleh sebab itu, Sefriani ingin ‘membumikan’ ilmu hukum internasional. Dia bahkan telah menulis sebuah buku tentang Hukum Internasional Suatu Pengantar, yang telah digunakan sebagai acuan belajar di beberapa fakultas hukum. Dia juga tak pernah menyerah untuk menyusun jurnal penelitian. Dedikasi dan komitmen itulah yang mengantarkannya hingga bisa mendapatkan jabatan profesor.

Kendati demikian, untuk bisa memperoleh gelar guru besar tersebut, Sefriani sempat mengalami kendala. Pada Agustus 2016, ia mulai mengurus proses tersebut dengan mengajukannya kepada pihak program studi (prodi).

Kemudian, melalui rapat senat guru besar UII pada 22 November 2016, persyaratannya tak pernah mengalami kendala. Begitu juga saat ia melakukan sidang di guru besar Kopertis, tak ada masalah yang dialami. Hingga akhirnya persyaratan masuk ke Dikti pada 2017.

Mulai Agustus 2017 itu Sefriani mengalami kendala. “Dari Dikti jurnal penelitian saya dikembalikan,” kata perempuan yang pernah mengenyam S2 di Universitas Padjajaran ini.

Dia mengatakan, ada dua jurnal penelitian yang diajukan. Namun hanya satu yang bereputasi. Akan tetapi, jurnal yang bereputasi itu hilang karena akun email Sefriani diretas orang. “Saya nggak tahu bagaimana cara mengembalikan datanya. Sampai saya tanya teman-teman di IT,” ungkapnya.

Ketidakmampuan Sefriani menunjukkan hasil komunikasi dengan reviewer jurnal sempat membuatnya kehilangan kesempatan. Parahnya, akun email Sefriani menyebarkan pesan penipuan uang kepada rekan-rekannya.

Solusinya, ia lantas mencari draf penelitiannya di laptop. Sefriani menunjukkan bukti-bukti berupa revisi dan hasil diskusi tentang jurnal penelitiannya yang bisa menguatkan persyaratannya. Meski sempat ditolak berkali-kali selama beberapa bulan, ia berhasil membuktikannya melalui audiensi. “Hingga akhirnya Surat Keputusan (SK) turun pada 1 Juni 2018,” ujarnya dengan semringah.

Sefriani pun berpesan pada rekan-rekannya sesama dosen, yang memiliki keinginan untuk memperoleh gelar guru besar. “Pokoknya jangan berputus asa dan tetap semangat. Ditolak berkali-kali, itu sudah biasa,” tambahnya. (laz/er/mo2)