BANTUL – Puskesmas Pajangan dalam lima tahun terakhir berkembang pesat. Bermetamorfosa menjadi salah satu fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) terbaik di Kabupaten Bantul. Bahkan, satu-satunya FKTP di Bumi Projotamansari yang mengantongi akreditasi paripurna. Berbagai prestasi mentereng itu buah komitmen seluruh pegawainya.

Kepala Puskesmas Pajangan dr Lucia Sri Rejeki menyebutkan, jumlah pegawai puskesmas yang dipimpinnya 46 orang. Semuanya punya komitmen kuat untuk memberikan pelayanan terbaik. Yang menarik lagi, setiap karyawan dari berbagai bidang ini terbuka terhadap saran dan kritik.

”Setiap hari kami membuka dua kotak yang tersedia,” jelas Luci, sapaan Lucia Sri Rejeki, di kantornya Rabu (24/10).

Dua kotak yang dimaksud Luci adalah boks yang menampung uneg-uneg pasien. Kotak pertama khusus bagi pasien yang puas dengan pelayanan. Kotak kedua diperuntukkan bagi pasien yang kurang puas atau bahkan kecewa dengan kualitas pelayanan.

Menurutnya, kertas saran dan kritik itu juga menyediakan beberapa kolom spesifik. Di antaranya, letak buruknya pelayanan dan siapa pegawai yang melayani dengan setengah hati.

”Setiap rapat pegawai yang dapat ”surat cinta” dari pasien kami sebutkan namanya,” ucap Luci mengaku karyawanlah yang justru meminta nama-nama itu agar disebutkan dalam rapat evaluasi. Yang menarik, setiap karyawan yang disinggung pasien justru tidak tersinggung. Sebaliknya, mereka justru tertantang memberikan pelayanan maksimal.

Luci menyebut peningkatan pelayanan melalui kritik dan saran pasien itu adalah salah satu inovasi puskesmas. Namanya sambung rasa.

”Singkatan dari sarana hubungan dengan masyarakat,” ujarnya.

Luci menekankan kepuasan pasien adalah segalanya. Guna mewujudkannya, puskesmas menyediakan call center. Melalui call center ini, pasien maupun warga dapat menanyakan berbagai hal. Salah satunya jadwal pelayanan puskesmas.

”Ponselnya saya yang bawa, sehingga saya yang menjawab on time,” tuturnya.

Hingga sekarang puskesmas yang terletak di Jalan Benyo-Pajangan, Sendangsari, Pajangan, ini memiliki 11 inovasi. Menurutnya, seluruh terobosan ini dari berbagai bidang pelayanan. Sebut saja mata unik. Inovasi akronim dari mari tunda usia nikah ini bertujuan untuk menekan pernikahan dini. Inovasi ini digulirkan lantaran angka pernikahan dini di Pajangan tinggi. Pada 2013, misalnya, mencapai 29 persen. Setelah berjalan selama beberapa tahun, angka pernikahan dini di Pajangan turun drastis. Pada 2017 tinggal 11 persen.

”Cara kerjanya, kami melibatkan remaja sebagai konselor. Agar mereka dapat ngobrol dengan teman sebayanya mengenai kesehatan reproduksi, sehingga anjuran tidak menikah dini dapat diterima,” kata Luci menyebut saat ini ada 150 konselor remaja yang tersebar di Desa Sendangsari, Guwosari, dan Triwidadi.

Luci mengingatkan pernikahan dini berisiko. Terutama bagi perempuan. Sebab, organ tubuh perempuan yang berusia di bawah 20 tahun belum matang, sehingga berisiko ketika menjalani persalinan. Bahayanya lagi, risiko ini juga berpotensi pada bayi yang dilahirkan. Selain fisik, kondisi mental juga belum siap.

”Idealnya kalau menikah ya perempuan minimal berusia 20 tahun, sementara usia pengantin pria 25 tahun,” ungkapnya.

Ada sembilan inovasi pelayanan lainnya. Yaitu, catin cetar (calon pengantin cerdas dan pintar), butik bela (bunda cantik besarkan bayi balita), pelangi batik (pelayanan gigi balita untuk senyum cantik), bunga kertas (bantu penanganan kekerasan rumah tangga), dan sajam gurantik (satu jam dalam seminggu berantas jentik). Juga raja ampuh (rawat gangguan jiwa sampai sembuh), jawara gaul (jaga jiwa warga rutan Bantul), kleting kuning (kelola tingkatkan gizi untuk kurangi stunting), dan ingkung seniman (ingat dukung sekolah sehat kini dan selamanya). (**/zam)