PURWOREJO-Kepemilikan garis pantai hampir mencapai 24 kilometer menjadikan banyak warga Purworejo yang memilih penghidupan sebagai nelayan. Hanya saja, nelayan masih memiliki keterbatasan kepemilikan. Mereka kebanyakan menggunakan armada dengan kapasitas terbatas.”Ada 776 nelayan yang tersebar di beberapa tempat. Mereka didukung 137 armada kapal,” kata Kepala Dinas Pertanian Perkebunan Kelautan dan Perikanan (DPPKP) Purworejo Bambang Jati Asmara saat ikut menerima kunjungan kerja Komisi II dan III DPRD Kabupaten Blitar, Senin (22/10).

Sebuah perahu yang idealnya digunakan dua orang, terpaksa digunakan lima orang. Kondisi ini memang cukup membahayakan. Namun mereka tidak memiliki pilihan lain.”Perahu yang ada sebagian besar merupakan bantuan pemerintah,” tambahnya.

Dijelaskannya, potensi perikanan tangkap di Kabupaten Purworejo sebenarnya cukup besar.  Namun, potensi itu belum tergarap secara maksimal. Nelayan terbagi dalam dua wilayah tangkap yakni Pantai Purworejo dan lepas Pantai Purworejo. Sedangkan angka  tangkapan cukup stabil dari 2013 hingga 2017 lalu. Dalam satu tahun nelayan di Pantai Purworejo sebanyak 868,80 kilogram dan di lepas pantai 838,95 kilogram.”Nelayan memanfaatkan tempat pendaratan ikan dan yang paling tinggi ada di Pantai Jatimalang,’’ jelas Bambang.

Jenis ikan yang paling banyak didaratkan bawal putih. Hanya saja tangkapan di tahun lalum engalami penurunan cukup besar dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2016 tangkapannya mencapai 21.200 kg, turun menjadi 14.459 kg pada 2017. “Ikan lainnya yang juga cukup besar adalah layur, manyung dan lobster ,” katanya.

Anggota Komisi B DPRD Purworejo  Ngadianto mengatakan, Purworejo memiliki populasi pengembangan udang vanamei yang cukup besar. Hanya saja,pengembangan itu memanfaatkan lahan di pesisir pantai dan memiliki beberapa persoalan yang perlu dipecahkan bersama.”Bisa menyerap banyak tenaga kerja. Tapi di sisi lain ada keluhan tentang pencemaran air. Terutama terhadap pertanian,” kata Ngadianto. (udi/din/by/mo2)