Darah seni mengalir dalam darah YB Sukamto. Lahir dan besar di lereng Merapi juga membuat nalurinya sebagai relawan menguat. Jiwa kemanusiannya teruji saat erupsi Merapi 2010.

JAUH HARI WAWAN S, Sleman

Rambutnya banyak yang memutih. Giginya pun juga banyak yang telah tanggal. Meski usianya telah menginjak 60 tahun, Kamto, sapaan YB Sukamto, tetap terlihat energic. Tak seperti orang sepantarannya. Bahkan, Kamto sehari-hari tetap menekuni ragam rutinitisnya sejak muda. Di antaranya sebagai pengrawit.

”Sejak umur 16 tahun aktif di dunia seni karawitan,” tutur Kamto saat berbincang dengan Radar Jogja belum lama ini.

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Perkenalan Kamto dengan dunia kesenian tak lepas dari peran ayahnya. Ayahnyalah yang memperkenalkan Kamto pada dunia karawitan.

Namun, di balik sosok seniman yang sederhana ini, Kamto ternyata juga memiliki jiwa kemanusiaan. Ya, Kamto sejak lama terlibat sebagai relawan. Dia sering berjibaku mempertaruhkan nyawa saat bencana erupsi Merapi.

Semangat ini masih menyala-nyala hingga usianya yang tak lagi muda. Di masa tuanya, Kamto tak ingin berdiam diri dengan menikmati sisa hidup. Dia ingin mendedikasikan sisa hidupnya untuk kemanusiaan.

”Tetap ingin berguna bagi sesama,” tutur Kamto mengaku bahwa tercata sebagai relawan sejak 1994.

Dia pun lantas mengingat-ingat peristiwa yang hampir merenggut nyawanya. Pada erupsi Merapi 2010, Kamto harus berpacu dengan waktu untuk menghindari terjangan wedhus gembel (awan panas).

Hari itu, 26 Oktober 2010, gunung api teraktif di Indonesia itu erupsi. Begitu mendengar kabar itu, Kamto tanpa berpikir panjang langsung mengendarai mobilnya menuju Kinahrejo. Saat itu tidak sedikit warga Kinahrejo masih berada di zona merah. Termasuk di antaranya Mbah Maridjan. Mereka tetap enggan mengungsi.

Pria kelahiran 25 Juli 1959 ini mengisahkan, kondisi saat itu sangat kritis. Bahkan, lembaga terkait melarang relawan naik hingga ke Kinahrejo.

”Saya yang jadi sopir terakhir yang mengangkut warga turun dari Kinahrejo,” kenang Kamto menceritakan, ada seorang wartawan yang nekat ikut menumpang mobil pikapnya membantu evakuasi.

Dalam perjalanan turun, pria yang tinggal di Pandanpuro, Hargobinangun, Pakem, ini menceritakan, dia sempat melihat deretan pepohonan terbakar diterjang wedhus gembel. Gerak wedhus gembel hanya beberapa meter di belakang mobilnya.

”Mungkin dulu saya selamat dari kejaran awan panas karena memang jalannya saya masih diberikan kesempatan,” kata Kamto dengan penuh syukur.

Kini, kondisi Merapi kembali bergejolak. Kamto pun masih ingin terus mengabdi untuk kemanusiaan. Bukan hanya berkesenian, tapi juga memberikan manfaat untuk sesama. (zam)