Hastin Sholikhah Memilih Teknik Ecoprint saat Membatik

Warnanya Tetap Kalem seperti Batik Konvensional

Keindahan batik tidak hanya terletak pada motif, warna, dan filosofinya. Melainkan juga pada prosesnya. Itu yang dipegang teguh Hastin Sholikhah. Dia mempertahankan teknik pewarnaan alam dengan bahan baku natural.

Dwi Agus, Sleman

Jogjakarta surganya motif batik. Mulai berbagai motif Jawa kuno hingga aksen yang mengikuti tren kekinian. Semuanya ada. Komplet.

Namun, perkembangan batik belakangan ini tidak hanya berkutat pada motif. Melainkan juga pada teknik pewarnaan hingga bahan bakunya.

Ini pula yang mengilhami Hastin Sholikhah dalam berkarya. Dia tidak hanya fokus menghasilkan motif batik yang indah, tapi juga memperhatikan proses pembuatannya. Hastin memang menggunakan pewarna alam. Seperti sebagian perajin batik lainnya. Yang membedakan adalah tekniknya.

”Dengan teknik ecoprint,” jelas Hastin saat ditemui di kediamannya belum lama ini.

Bagi perempuan yang tinggal di Jangkang, Nogotirto, Sleman, ini hasil ecoprint tak kalah indah dibanding dengan teknik konvensional. Bahkan, untuk menghasilkan motif natural sekalipun. Motifnya tetap terlihat kalem seperti teknik konvensional.

”Tantangannya memang pada kekuatan warna dan motifnya,” tuturnya.

Dalam sebulan Hastin mampu memproduksi 20 lembar kain batik. Motifnya beragam. Mulai dedaunan, batang, hingga akar pepohonan. Bahkan, ada pula berbagai motif tergambar apik dalam satu lembar kain.

Bagaimana bisa memilih teknik ecoprint? Perempuan 28 tahun ini bercerita bahwa background pendidikan mempengaruhinya. Saat masih duduk di bangku perkuliahan, Hastin intens mempelajari teknik pewarnaan berbahan kimia.

”Dulu di Jurusan Tekstil ISI Jogjakarta,” ujarnya.

Diakuinya, warna kimia menghasilkan motif dan warna kuat. Hanya, dia merasa tidak sreg dengan dampak jangka panjang. Seperti limbah dari proses produksi yang berdampak pada lingkungan sekitar. Semangatnya semakin tinggi saat mendapat dukungan dari keluarga dan sahabat. Apalagi lingkungan sekitar rumahnya masih asri.

”Meski produksi batik konvensional, pengolahan limbahnya tetap harus optimal,” tegasnya.

Tidak seperti perajin lainnya, Hastin cenderung tidak menemui kendala berarti ketika memulai berkarya. Tinggal di pedesaaan menuntun Hastin menemukan berbagai bahan baku yang dibutuhkan. Seperti aneka tumbuhan.

Namun, Hastin tidak asal comot dalam memilih pewarna alami. Dia harus memilih tumbuhan yang mengandung tanin atau zat pewarna alam. Sebut saja daun jati, jarak, ketepeng, daun ekor kucing, secang, hingga tanaman bawang bombai.

”Penelitian pada 2016. Baru memproduksi pada 2017,” tambah Hastin ketika disinggung mengenai perjalanannya.

Guna menghasilkan karya terbaik, Hastin mengadaptasi teknik murdan. Di mana kain terlebih dahulu direndam dengan air tawas. Tujuannya untuk menghilangkan kanji dan bahan kimia dalam lembaran kain polos. Lalu, dedaunan segar ditempelkan ke permukaan kain.

Setelahnya digulung dengan teknik pres hingga seluruh gulungan kain tertekan. Selama proses inilah warna dari daun meresap ke lembaran kain. Semakin kuatnya tekanan, warna yang dihasilkan semakin maksimal.

”Perebusan satu sampai dua jam lalu didiamkan semalam agar warnanya keluar,” jelasnya.

Dari lembaran kain primisima dan sutera, Hastin bisa menghasilkan beragam motif batik. Per satu potong dengan ukuran 2,5 meter dibanderol di kisaran Rp 350 ribu hingga Rp 400 ribu.

”Pembeli rata-rata dari Jakarta. Ada juga dari Singapura,” ucap Hastin yang mengandalkan penjualan produknya secara online. (zam/mg/mo2)