JOGJA – Bulan kesehatan gigi nasional (BKGN) 2018 mengajak masyarakat Jogjakarta untuk lindungi kesehatan Gigi keluarga dari resiko gula tersembunyi. Terlebih mayoritas makanan khas Jogja yang manis memiliki kandungan gula tersembunyi.

Dekan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Gadjah Mada (UGM) drg  Ahmad Syify mengatakan masalah gigi berlubang atau karies sering kali digambarkan sebagai empat mata rantai yang saling berinteraksi. Mulai dari host yang terdiri dari gigi dan air liur, mikroorganisme atau bakteri pada plak, substrat atau asupan makanan, dan waktu.

“Bicara mengenai substrat, gula yang konsumsi diubah oleh mikroorganisme di dalam mulut sehingga kondisi pH mulut otomatis berubah menjadi asam dan proses karies pun terjadi,” jelasnya dalam jumpa pers BKGN 2018 di Rumah Sakit Gigi Mulut (RSGM) Prof Soedomo Rabu (17/10).

Acara yang digelar dari mulai kemarin hingga besok (17-19/10) itu diselenggarakan oleh brand perawatan kesehatan gigi dan mulut yang berkerjasama dengan persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) dan Asosiasi Fakultas Kedokteran UGM serta RSGM Prof Soedomo.

Ahmad menambahkan selain substrat, faktor waktu juga penting diperhatikan karena berhubungan erat dengan seberapa seringnya kita mengkonsumsi gula, termasuk gula tersembunyi. Namun proses karies akibat gula ini dapat dikendalikan dengan lebih mewaspadai konsumsi gula dan menginterupsi waktu pembentukan karies dengan rutin menyikat gigi. “Pada pagi hari setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur menggunakan pasta gigi yang mengandung flouride serta berkonsultasi ke dokter gigi minimal enam bulan sekali,” terang Ahmad.

Mengangkat tema Lindungi gigi keluarga dari resiko gula tersembunyi, BKGN 2018 memberikan edukasi mengenai pentingnya mewaspadai gula tersembunyi yang ternyata banyak dikonsumsi setiap hari. Terutama karena resiko yang ditimbulkannya terhadap masalah karies atau gigi berlubang.

Dengan Edukasi ini dipercaya dapat bermanfaat bagi masyarakat Jogjakarta. Karena dengan ragam pangan yang khas di Jogjakarta yang terkenal dengan ciri khas manis, namun ternyata banyak pula kuliner lokal yang meskipun tidak bercita rasa manis namum memiliki kandungan gula yang tersembunyi. Misalnya beberapa menu masyarakat Jogja seperti mangut, tengkleng, sate klatak hingga sambel krecek.

World Health Organization (WHO) menganjurkan bahwa asupan gula dari semua sumber makanan dan minuman tidak melebihi 50 gram perhari untuk dewasa dan 30 gram perhari untuk anak-anak. Data survey makanan individu (SKMI) Indonesia 2014 mengatakan bahwa sebanyak 29,7 persen masyarakat Indonesia mengkonsumsi gula harian melebihi batas.

Topik ini diangkat dengan target untuk mengedukasi dan melayani lebih dari 65.000 masyarakat Indonesia melalui serangkaian aktivitas yang digelar di 23 Fakultas Kedokteran Gigi dan 40 Cabang PDGI di berbagai Wilayah di Indonesia hingga Desember mendatang. (cr8/pra/zl/mo2)