Seketika para undangan dibuat terkejut dengan kehadiran Fish Police, band asal London yang menjadi sajian utama pembukaan Indonesian Creative City Festival (ICCF) kemarin (15/10) malam. Seisi Atrium Sahid J-Walk tak kuasa untuk tidak headbang ketika hentakan musik mereka memenuhi ruangan. Tidak ada yang menyangka Dean Rodney sang frontman dan Matthew Howe merupakan pengidap autisme. “Dean selain menjadi vokalis juga pencipta lagu,” jelas Irma Chantily, liaison officer band ini.

Salah satu lagu ciptaan Dean yang mereka bawakan yakni Chicken Nuggets For Me, menceritakan ia yang begitu terobsesi dengan nikmatnya ayam goreng. Ada pula Helicopter Is Outside yang menceritakan tentang imajinasinya ada helikopter yang mampir di pekarangan rumah. Lagu-lagu ini terhimpun dalam The Marzipan Transformation yang dirilis 2013 lalu. Musik mereka menampilkan irama punk dengan sentuhan elektronik 16-bit. Gaya menyanyi Dean pun seperti penyanyi hip-hop membuat band ini semakin unik.

Sebelumnya, Taliwangsa mengawali pertunjukan dengan menyanyikan lagu-lagu daerah yang digubah sedemikian rupa. Mulai dari lagu daerah Kalimantan, Sunda, sampai Jawa mencerminkan keragaman khasanah kebudayaan Indonesia dapat menjadi kesatuan pertunjukan yang menarik. Alat-alat musik yang digunakan pun berasa dari berbagai daerah, mulai dari rebab, gamelan, sampai suling.

Berbagai pertunjukan ini membuka serangkaian ICCF yang digelar sampai 20 Oktober mendatang. Selama itu, sebanyak 22 kelompok penggiat industri kreatif dipamerkan dalam Creative City Gallery di Atrium Sahid J-Walk, salah satu venue di antara banyak venue lain yang tersebar di Sleman. “Mereka ini sudah melewati proses kuratorial yang cukup ketat. Hanya yang benar-benar merepresentasikan kota kreatif yang kami loloskan,” jelas Arief Ayip Budiman, Ketua Tim Kurator di sela-sela pagelaran.

Savitri Nurmala Dewi, Kabid Pengembangan Wisata dan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Sleman mengucapkan terimakasih atas berbagai pihak yang ikut mendukung terselenggaranya acara ini. Ia pun ikut bangga Sleman tercatat sejarah sebagai salah satu tuan rumah ajang bergengsi ini. “Buat saya event ini adalah lompatan besar untuk pengembangan kota kreatif,” jelasnya.

Greg Wuryanto, selaku Ketua Jogja Creative Society menjelaskan, ajang ini menjadi salah satu upaya untuk menjalin integrasi dengan berbagai pihak. Ini diperlukan untuk membentuk ekosistem kota kreatif yang ideal. “Semoga dengan adanya acara ini banyak ide-ide yang akan melahirkan gebrakan-gebrakan baru dalam pengembangan kota kreatif,” jelasnya. (cr10)

Seketika para undangan dibuat terkejut dengan kehadiran Fish Police, band asal London yang menjadi sajian utama pembukaan Indonesian Creative City Festival (ICCF) kemarin (15/10) malam. Seisi Atrium Sahid J-Walk tak kuasa untuk tidak headbang ketika hentakan musik mereka memenuhi ruangan. Tidak ada yang menyangka Dean Rodney sang frontman dan Matthew Howe merupakan pengidap autisme. “Dean selain menjadi vokalis juga pencipta lagu,” jelas Irma Chantily, liaison officer band ini.

Salah satu lagu ciptaan Dean yang mereka bawakan yakni Chicken Nuggets For Me, menceritakan ia yang begitu terobsesi dengan nikmatnya ayam goreng. Ada pula Helicopter Is Outside yang menceritakan tentang imajinasinya ada helikopter yang mampir di pekarangan rumah. Lagu-lagu ini terhimpun dalam The Marzipan Transformation yang dirilis 2013 lalu. Musik mereka menampilkan irama punk dengan sentuhan elektronik 16-bit. Gaya menyanyi Dean pun seperti penyanyi hip-hop membuat band ini semakin unik.

Sebelumnya, Taliwangsa mengawali pertunjukan dengan menyanyikan lagu-lagu daerah yang digubah sedemikian rupa. Mulai dari lagu daerah Kalimantan, Sunda, sampai Jawa mencerminkan keragaman khasanah kebudayaan Indonesia dapat menjadi kesatuan pertunjukan yang menarik. Alat-alat musik yang digunakan pun berasa dari berbagai daerah, mulai dari rebab, gamelan, sampai suling.

Berbagai pertunjukan ini membuka serangkaian ICCF yang digelar sampai 20 Oktober mendatang. Selama itu, sebanyak 22 kelompok penggiat industri kreatif dipamerkan dalam Creative City Gallery di Atrium Sahid J-Walk, salah satu venue di antara banyak venue lain yang tersebar di Sleman. “Mereka ini sudah melewati proses kuratorial yang cukup ketat. Hanya yang benar-benar merepresentasikan kota kreatif yang kami loloskan,” jelas Arief Ayip Budiman, Ketua Tim Kurator di sela-sela pagelaran.

Savitri Nurmala Dewi, Kabid Pengembangan Wisata dan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Sleman mengucapkan terimakasih atas berbagai pihak yang ikut mendukung terselenggaranya acara ini. Ia pun ikut bangga Sleman tercatat sejarah sebagai salah satu tuan rumah ajang bergengsi ini. “Buat saya event ini adalah lompatan besar untuk pengembangan kota kreatif,” jelasnya.

Greg Wuryanto, selaku Ketua Jogja Creative Society menjelaskan, ajang ini menjadi salah satu upaya untuk menjalin integrasi dengan berbagai pihak. Ini diperlukan untuk membentuk ekosistem kota kreatif yang ideal. “Semoga dengan adanya acara ini banyak ide-ide yang akan melahirkan gebrakan-gebrakan baru dalam pengembangan kota kreatif,” jelasnya. (cr10)