Korban Dibunuh, Diperkosa, lalu Dibuang ke Sungai Winongo

JOGJA – Tabir penyebab tewasnya Agnesia Mercyliano Cantika Prana Dewi akhirnya terungkap. Bocah asal Dusun Jatimulyo, Kricak, Tegalrejo, Kota Jogja, itu ternyata diperkosa setelah dibunuh. Yang lebih memprihatinkan lagi, pelaku tak lain adalah tetangga sendiri. Yakni, Nova Candra Hermawan, 27.

Pemuda yang tercatat pernah terjerat kasus pencurian bermotor di wilayah hukum Polres Sleman ini dibekuk Minggu (14/10). Ketika bersembunyi di salah satu penginapan di Kaliurang, Sleman. Polda DIJ bersama Polresta Jogja menduga Nova sebagai pelaku pembunuhan sadis itu berbekal perhiasan korban yang raib.

Kapolresta Jogja Kombespol Armaini mengungkapkan, satu-satunya petunjuk yang diperoleh kepolisian adalah perhiasan korban. Berupa dua buah cincin dan sepasang anting-anting. Perhiasan ini dijual kepada seorang warga setelah pelaku menghabisi nyawa korban.

”Dijual kepada seseorang bernama Slamet Amri asal Kricak Kidul senilai Rp 500 ribu,” jelas Armain saat ungkap kasus di Mapolresta Jogja Senin (15/10).

Sebagaimana diketahui, warga Pedukuhan Tegalrejo Minggu (30/9) geger. Itu setelah ditemukan mayat bocah perempuan mengapung di Sungai Winongo. Saat ditemukan, kondisinya mengenaskan. Ada darah mengalir dari hidung dan telinga korban. Bibir dan buka korban juga ada luka memar. Juga setengah telanjang. Tanpa menggunakan pakaian dalam.

Dari hasil pemeriksaan diketahui, pelaku mengetahui korban tinggal sendiri di rumah. Setelah pelaku berpapasan dengan ibu korban, Brigita Lina Wati, 42. Dari sinilah, pelaku lantas berinisiatif mendatangi rumah korban. Modusnya, mengajak korban keluar di pinggir sungai. Lokasinya tidak jauh dari rumah korban.

”Pelaku meminta korban keluar dari pintu belakang. Dia tahu pintu depan terkunci,” tuturnya.

Korban tak menaruh kecurigaan apa pun. Toh, adik pelaku merupakan teman sebayanya. Guna mempermulus aksinya, pelaku mengajak korban menemaninya cuci muka di sungai. Setelah melihat kondisi sepi, pengangguran ini kemudian melancarkan aksinya. Pelaku semula meminta perhiasan korban. Lalu, juga meminta korban melayani nafsu bejatnya. Namun, korban menolaknya.

Pelaku yang dalam pengaruh alkohol ini berubah beringas. Dengan sekuat tenaga dia memukuli mulut dan wajah bocah kelas V SD Tegalrejo itu. Hingga pingsan. Bahkan, pelaku juga sempat mencekiknya. Meski korban telah tak sadarkan diri. Saat tak berdaya inilah pelaku kemudian melampiaskan nafsu bejatnya.

”Pelaku membuang tubuh korban ke sungai untuk menghilangkan jejak,” lanjut Armain menyebut bahwa hasil otopsi RS Bhayangkara menunjukkan korban diduga masih hidup ketika dibuang ke sungai. Itu merujuk adanya cairan dalam paru-paru korban.

Siang harinya, Perwira menengah dengan tiga melati di pundak ini menuturkan, pelaku langsung menjual perhiasan korban begitu mendengar kabar penemuan mayat. Lalu melarikan diri ke wilayah Magelang, Jawa Tengah. Selama tiga hari. Pelaku kemudian bersembunyi di salah satu penginapan di Kaliurang.

”Pelaku sudah enam hari meningap di Kaliurang,” bebernya.

Dari tangan pelaku, polisi mendapatkan sejumlah barang bukti. Antara lain, satu stel pakaian pelaku saat menghabisi nyawa korban.

Akibat perbuatannya, pelaku dijerat dengan Pasal 340 KUHP subsidair Pasal 338 KUHP, dan Pasal 365 Ayat 1 dan Ayat 3. Serta Pasal 285 KUHP dan Pasal 353 Ayat 3 KUHP. Juga Pasal 81 Ayat 1 dan Pasal 80 Ayat 1 Undang-undang No. 35/2014 tentang Perubahan atas Undang-undang No. 23/2002 tentang Perlindungan Anak. ”Ancaman maksimalnya hukuman mati,” tegasnya. (dwi/zam/rg/mo2)