Infeksi Menular Seksual (IMS) merupakan salah satu penyebab permasalahan kesehatan, sosial dan ekonomi di banyak negara. Hampir 500 juta kasus baru IMS terjadi setiap tahun di seluruh dunia.

Transgender perempuan adalah wanita yang ditunjuk sebagai laki-laki saat lahir atau yang sering kita sebut dengan waria dan LSL adalah singkatan dari Lelaki Seks dengan Lelaki atau yang sering juga disebut Gay. Kedua kelompok ini merupakan kelompok resiko tinggi untuk tertular IMS dan HIV/AIDS. Hal ini dikarenakan kaum transgender perempuan memiliki kehidupan seksual yang berbeda dengan kehidupan seksual laki-laki maupun perempuan pada umumnya. Perilaku seksual yang dilakukan adalah seks anal, seks oral, dan variasi (seks oral dan seks anal). Seks anal atau melakukan hubungan seks melalui anus mempunyai risiko perlukaan pada anus (karena anus tidak elastis), sehingga dengan adanya luka di daerah anus, jika pasangan seks terkena IMS dan HIV maka akan lebih mudah ditularkan.

Angka kejadian IMS pada transgender perempuan masih tinggi hal ini dikarenakan kesadaran akan penggunaan kondom masih rendah dan dapat memicu terjadinya IMS pada kelompok yang sering bergonta-ganti pasangan, hal tersebut juga ditambah dengan tingkat pengetahuan yang rendah tentang pencegahan IMS.

Kelompok LSL dan transgender juga merupakan salah satu dari kelompok yang mengalami banyak hambatan dalam memperoleh pelayanan dan perawatan kesehatan yang berkualitas yang diakibatkan karena meluasnya stigma yang menentang homoseksualitas di masyarakat dan terabaikannya varians gender dalam sistem kesehatan.

Perilaku berganti-ganti pasangan serta berpindah tempat memperbesar terjadinya risiko penularan. LSL tidak menyadari resiko yang didapat akibat infeksi HIV dan transmisinya berkaitan dengan anal seks, dan beberapa mempercayai bahwa resiko mereka terkena infeksi HIV hanya mungkin atau meningkat jika berhubungan seksual dengan wanita.

Pengetahuan LSL mengenai dampak yang ditimbulkan akibat IMS masih rendah, beberapa LSL merasa infeksi tersebut dapat sembuh sendiri tanpa diberikan pengobatan. Sebagian besar menganggap bahwa hubungan dengan sesama jenis tidak akan menularkan penyakit IMS. Hal ini salah satunya diakibatkan informasi yang kurang dari lembaga kesehatan mengenai resiko HIV pada LSL sehingga LSL tidak tanggap untuk melakukan pengobatan. Stigma negatif dan diskriminasi saat berobat juga membuat LSL tidak mau berobat ke klinik.

Stigma negatif telah melekat pada diri transgender perempuan penjaja seks dimana mereka disebut sebagai salah satu sumber penyebaran IMS dan virus HIV/AIDS karena resiko atas faktor pekerjaannya sebagai penjaja seks. Kebanyakan transgender perempuan tidak menggunakan organ reproduksi sesuai fungsinya yaitu untuk meneruskan keturunan, namun tetap menggunakan organ tersebut untuk kenikmatan seksual dan untuk memenuhi kebutuhan hidup karena merupakan salah satu sumber penghasilannya.

*Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana Jogjakarta, Anggota Pusat Studi Penyakit Tropis Infeksi