BANTUL – Progres penanganan kasus perusakan di lokasi penyelenggaraan tradisi sedekah laut di Pantai Baru Jumat (12/10) stagnan. Sembilan orang yang sebelumnya diduga sebagai pelaku perusakan dilepas kepolisian. Minimnya saksi dan alat bukti sebagai penyebabnya.

”Kami bukan melepaskan. Tapi karena minim bukti dan saksi,” jelas Kapolres Bantul AKBP Sabat M Hasibuan saat dihubungi Minggu (14/10).

Ya, penyidik kesulitan mengorek keterangan dari panitia maupun warga. Mereka enggan menjadi saksi. Ada kesan mereka cenderung tidak mau memperpanjang masalah. Di sisi lain, sembilan orang yang diamankan ini tidak tahu-menahu soal perusakan. Mereka hanya berada di dalam mobil.

Sebagaimana diketahui, sekitar pukul 23.40 Jumat (12/10) puluhan orang dengan menggunakan cadar datang ke lokasi sedekah laut di Pantai Baru. Mereka datang dengan dua unit mobil, dan sebuah ambulans, plus beberapa sepeda motor. Begitu tiba di lokasi, mereka berteriak-teriak sembari merusak penjor. Mereka juga memecah kaca meja, kursi, dan tenda.

Dalam teror yang berlangsung sekitar 15 menit itu, para pelaku tidak hanya meninggalkan berbagai kerusakan. Melainkan poster. Isinya,”Menolak Semua Kisyirikan Berbau Budaya Sedekah Laut Atau Selainnya.”

Kendati sembilan orang dilepas, Sahat memastikan kepolisian tetap mendalami kasus ini. Kepolisian terus mencari alat dan saksi baru.

”Kami harap masyarakat tidak takut,” pintanya.

Saat ditemui di Sarasehan Labuhan Pleret, GKR Hayu enggan berkomentar ketika disinggung mengenai aksi perusakan. Putri keempat raja keraton Ngayogyokarta Hadiningrat ini menyarankan untuk meminta pernyataan Sultan Hamengku Buwono X, Red. Sebagai bentuk sikap dan keputusan keraton.

”Yang jelas, apapun bentuk kekerasan dan kerusuhan saya tidak pernah setuju,” tegasnya.

Sementara itu, Anggota Komisi X DPR RI Esti Wijayati menyayangkan sikap kepolisian yang melepaskan sembilan orang. Sebab, aksi perusakan ini bisa terulang.

”Peristiwa ini tidak bisa dianggap enteng,” ketusnya.

Dalam kesempatan itu, politikus PDI Perjuangan ini juga meminta masyarakat tidak takut untuk menghadapi aksi teror. Apalagi terhadap tradisi kebudayaan.

”Karena kebudayaan luhur harus tetap bisa berjalan di DIJ,” tambahnya. (ega/zam/fj/mo2)