Kedua orang tua Raisa sempat dikabarkan meninggal dunia. Menjadi korban gempa di Palu, Sulawesi Tengah Jumat (28/9) lalu. Sabtu (13/9) Raisa diajak ibunya, Waidah, mengunjungi Gunungkidul. Tempat kelahiran sang ayah, Suryanto, yang meninggal saat gempa.

GEMPA dan tsunami di Sulawesi Tengah (Sulteng) sudah berlalu. Namun sakit, trauma, dan luka yang diderita para korban selamat belum sepenuhnya sembuh. Seperti dialami Raisa Putri Adila. Balita 19 bulan. Anak pasangan suami istri Suryanto dan Waidah. Raisa dan Waidah selamat. Namun sang ayah meninggal dunia setelah tubuhnya terjepit bangunan rumah. Saat gempa. Di Perumahan Balaroa, Palu, Sulteng.

Almarhum Suryanto lahir di Gunungkidul. Dia merantau di Palu. Bekerja di sebuah perusahaan percetakan. Suryanto mempersunting Waidah dan dianugerahi anak semata wayang. Raisa. Ketika gempa besar berkekuatan 7,4 skala Richter mengguncang Palu dan Donggala Jumat (28/9) keluarga ini tidak sedang berkumpul. Waidah bekerja. Sedangkan Suryanto dan Raisa tinggal di rumah.

Sore itu, menjelang magrib Waidah mampir di toko swalayan. Tak lama berselang bumi bergetar kuat. Tubuhnya terpelanting dan jatuh di lantai. Di tengah kepanikan, Waidah teringat anak dan suami. Namun apa daya. Dia tidak bisa berbuat banyak. Berjalan saja sempoyongan. Karena kuatnya getaran gempa. Waidah segera berlari keluar lewat pintu depan swalayan. Dia mendapati pemandangan mengerikan. Fenomena likuifaksi. Atau tanah bergerak. Kesempatan untuk lari sudah tidak ada.

Ketika guncangan gempa mereda, Waidah berkumpul dengan sekitar 50 orang lain. Mereka lantas berusaha mencari jalan aman. Hingga sampai di sebuah tanjakan. Setelah berjalan sekitar 1 kilometer. Di dekat kantor Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) Sulteng mereka mengungsi selama dua malam.

Keesokan harinya Waidah turun dari posko pengungsian. Jalan kaki menuju rumahnya. Dia tanya ke tetangga akan nasib anak dan suami. Betapa goncang jiwaya mendapat kabar sang suami meninggal. Tak lama, semangatnya mulai berkobar setelah tahu sang buah hati selamat. Meskipun mengalami luka. Raisa dirawat di Rumah Sakit Al Jufri, Palu.

Cobaan Tuhan masih harus dialami Waidah sesampainya di Rumah Sakit Al Jufri. Saat itu Raisa diambil oleh orang lain. Waidah harus berdebat panjang. Untuk meyakinkan pihak rumah sakit. Bahwa Raisa adalah darah dagingnya. Anak semata wayangnya. Perjuangannya berhasil. Orang yang mengaku keluarga Raisa tak bisa membuktikan benang merahnya. Baik hubungan keluarga mereka dengan Raisa. Pun demikian ciri-ciri fisik balita mungil itu. Kalah berdebat, orang yang membawa Raisa lantas beralasan. Dia mengira Raisa telah yatim piatu.

Berhasil mendapatkan kembali Raisa, cobaan lain datang. Kaki sebelah kanan Raisa terluka. Dokter merekomendasikan untuk diamputasi. Demi keselamatan dan kesehatan Raisa. Perasannya campur aduk. Bak disambar petir siang bolong. Saat mendengar keterangan dokter. Meski berat, Waidah harus mengambil keputusan terbaik.

Kisah pilu Waidah ternyata sampai ke telinga seorang relawan Muhammadiyah. Namanya Irvan Yusuf. Menyusul informasi yang beredar di media sosial.

Keluarga besar Suryanto di Gunungkidul sepakat. Meminta Waidah dan Raisa ke Jawa. Pulang ke kampung kelahiran sang ayah. Dengan perantara sang relawan Waidah dan Raisa tiba di Padukuhan Mengger, Karangasem, Paliyan, Gunungkidul Sabtu (13/10).

Di Bumi Handayani Waidah siap memulai lembaran kehidupan baru. Bersama Raisa. Meski tak lagi didampingi sang suami, ayah Raisa. Meski bayang-bayang masa depan Raisa juga terus menggelayuti pikirannya. Terlebih dengan kondisi kaki Raisa yang telah diamputasi. Apalagi Waidah dan Raisa belum terjamin kesehatan nasional Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). “Saya tak punya BPJS,” ungkap Waidah saat Radar Jogja menyambangi kediaman keluarga besar suaminya Minggu (14/10).

Masalah itu pernah disampaikannya kepada wakil rakyat Provinsi DIJ Rani Widayati. Wakil ketua DPRD DIJ itu menjenguk Waidah dan Raisa bersama anggota DPRD Gunungkidul Ery Agustin Sabtu (13/10).

Curhat Waidah menjadi catatan penting Rani maupun Ery. Mulai BPJS, penanganan healing pascabencana, hingga kaki palsu untuk Raisa. “Kami siap perjuangkan,” janji Rani diamini Ery. Tentang kaki palsu Raisa, akan disesuaikan dengan pertumbuhan usianya. (yog/rg/mo2)