HARI Jadi Ke-67 Kabupaten Kulonprogo tahun 2018 mengambil tema “Dengan Semangat Kebersamaan dan Keberagaman, Kita Songsong Kejayaan Kulonprogo.” Sebuah tema yang sarat semangat dan harapan.

“Usia Kabupaten Kulonprogo sudah genap 67 tahun, memasuki tahun 2019 diharapkan akan menjadi tahun keberlimpahan bagi Kulonprogo. Doa serta dukungan semua pihak untuk kemajuan Kulonprogo sangat diharapkan,” ucap Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo.

Tidak hanya segudang prestasi yang telah ditorehkan, banyak nilai-nilai positif yang telah ditanamkan di era kepimpinan Hasto. Satu di antaranya yakni pengamalan nilai-nilai Pancasila yang dirangkum dalam budaya gotong royong dan kini tumbuh bersemi di Bumi Binangun.

Hasto menjelaskan, Kabupaten Kulonprogo kini sudah memiliki Peraturan Daerah (Perda) No 18 / 2015 tentang Pendidikan Karakter yang diterapkan di sekolah-sekolah. Dilengkapi dengan modul pembelajaran, salah satunya terkait pengamalan nilai-nilai Pancasila menjadi bagian penting untuk generasi muda penerus bangsa.

“Sesuai tema hari jadi tahun ini, makna kebersamaan dalam perbedaan itu sudah mulai dirintis dengan pengaplikasian Perda Pendidikan Karakter di sekolah. Meskipun banyak contoh seperti kegiatan TMMD, koperasi, program bedah rumah dan gotong royong lainnya yang masih banyak lagi,” jelasnya.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kulonprogo Sumarsana menambahkan, Perda Pendidikan Karakter juga telah diperkuat dengan Peraturan Bupati (Perbup) No 65 Tahun 2017 dan sejak Januari 2018. Aplikasi di lapangan, di sekolah ada empat kegiatan ekstra kulikuler (ekskul).

Yakni ekskul keagamanan, ekskul Pramuka, pengamalan nilai-nilai Pancasila dan ekskul kemataraman. Khusus untuk pengamalan nilai Pancasila dimulai dari standar operasional prosedur (SOP) pagi dan siang hari bagi siswa. Didahului dengan baris, mencium tangan guru, hormat bendera dan menyanykian lagu Indonesia Raya.

Siswa dilatih peka dan suka bergotong royong di lingkungan internal sekolah maupun eksternal sekolah. Setiap minggu, siswa bekerja bakti membersihkan ruangan dan lingkungan sekolah. Pada hari tertentu juga ditularkan ke luar sekolah.

“Ke depan target kami semua sekolah berstandar adiwiyata, karena anak-anak sudah sudah terbiasa bergotong royong menjaga lingkungan sekolah. Bahkan di luar sekolah mereka juga sudah terbiasa ikut membersihkan lingkungan masjid, jalan-jalan menuju sekolah, bahkan ikut beda rumah,” ucapnya.

Menurutnya, mengubah karakter tidak bisa semudah membalikkan telapak tangan, butuh proses. Dimulai dengan hal kecil, memisahkan diri dengan sendirinya ketika ada yang tidak lengkap saat mengikuti upacara, tidak membuang sampah sembarangan dan mencabuti rumput tanpa harus disuruh.

“Mulai Agustus 2018 kami sudah mengikutsertakan siswa dalam kegiatan bedah rumah, seperti siswa SMP 3 Sentolo, SMP 2 Panjatan, SMP 2 Wates, SMP 4 Wates, dan SMP 2 Kalibawang. Mereka kami ajak merasakan dan memahami pentingnya peduli dan bergotong royong,” ujarnya.

Ditambahkan, ketika ada dukungan yang harmonis antara sekolah dan lingkungan masyarakat, anak-anak akan lebih mudah menjiwai nilai kebersamaan. Tanpa melihat perbedaan agama, suku, ras dan bahasa, mereka bersama-sama ikut kegiatan kerja bakti. Masyarakat membuat jalan menuju sekolah, siswa merasa ikut memiliki dengan merawat, di situ mucul rasa keberasamaan.

Pendidikan karakter ini disiapkan untuk menyongsong generasi emas Indonesai 100 tahun. Di antara mereka nantinya akan menjadi pemimpin, jadi presiden mungkin, jadi menteri atau pejabat lainnya. Mereka sudah memiliki bekal mental dan karakter.

“Tugas kami (Dinas Pendidikan) mengantarkan peserta didik untuk memiliki kompetensi abad 21. Ada lima karakter dasar, yakni religius, kebangsaan, gorongroyong, mandiri, dan integritas. Semuanya masuk dalam Perda No 18 / 2015 tentang Pendidikan Karakter,” ucapnya. (*/tom/laz/by/mo2)