Jauh sebelum koneksitas New Yogyakarta International Airport (NYIA) dengan Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah diwacanakan, program Bedah Menoreh telah dikumandangkan Pemkab Kulonprogo. Pada dasarnya untuk memupus kesenjangan pembangunan. Antara wilayah dataran tinggi dan dataran rendah di Bumi Binangun.

Dataran tinggi mendominasi wilayah utara Kabupaten Kulonprogo. Sebaliknya, dataran rendah di wilayah selatan. Meliputi kawasan perkotaan dan pesisir.

“Banyak daerah di utara yang sulit dijangkau masyarakat,” ungkap Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo kepada Radar Jogja Minggu (14/10).

Belum semua daerah di wilayah perbukitan saling terkoneksi. Sebagian daerah bahkan sulit diakses karena minimnya infrastruktur.

Warga harus naik turun bukit untuk menjangkau titik-titik di Perbukitan Menoreh.

Seiring pembangunan bandara di wilayah Kecamatan Temon, Kulonprogo, koneksitas daerah di wilayah Perbukitan Menoreh menjadi suatu keniscayaan. Bahkan menjadi tuntutan. Apalagi Perbukitan Menoreh menjadi jalur alternatif menuju Candi Borobudur yang sudah sangat terkenal itu. Akses NYIA – Borobudur harus lebih baik. Untuk memangkas jarak. Sekaligus mendongkrak potensi destinasi wisata dataran tinggi Kulonprogo.

Maka makin kuatlah tekad Pemkab Kulunprogo. Untuk merealisasikan program Bedah Menoreh. Semangat ini kian menggebu menyusul peringatan Hari Jadi ke-67 Kabupaten Kulonprogo tahun ini. “Bedah Menoreh harus dipikirkan serius,” tegas Hasto.

Ibarat sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Itulah yang bakal terjadi jika koneksitas NYIA-Borobudur terealisasi. Bukan hanya objek-objek wisata Perbukitan Menoreh kian moncer. Program Bedah Menoreh sekaligus untuk memperkuat Samigaluh yang diproyeksikan menjadi Kota Satelit.

Pemkab Kulonprogo telah menginisiasi pembebasan sejumlah lahan sejak 2017. Untuk dibangun bahu jalan jalur Bedah Menoreh. Salah satunya di Desa Kebonrejo, Temon. Sebagai pintu masuk Menoreh dari selatan. Jauhnya 2,65 kilometer. Pemkab Kulonprogo mengalokasikan dana Rp 2 miliar.

“Ini semacam triage (istilah kedokteran: proses skrining cepat, Red). Setelah pembebasan tanah, segera disusul keseriusan pemerintah provinsi dan pusat untuk menyelesaikan program ini,” ungkap Hasto yang juga dokter spesialis kandungan.

Kabid Bina Marga, Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPKP) Kabupaten Kulonprogo Nurcahyo Budiwibowo menjelaskan, tahun ini menjadi fase cukup krusial. Untuk realisasi program Bedah Menoreh. Yakni tahap studi kelayakan dan penyusunan detail engineering design (DED). Mulai ujung NYIA hingga Borobudur. Fase ini menjadi ranah Dinas PUP Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) DIJ.

“Ada beberapa alternatif trase. Akhirnya dipilih yang paling layak,” ungkapnya.

Trase adalah garis tengah atau sumbu jalan. Pada peta topografi berupa garis lurus yang saling terhubung. Seusai kajian, panjang trase 58 kilometer. Mulai Kecamatan Temon hingga Samigaluh.

Merujuk DED ruas jalan yang dikerjakan tahun ini sejauh 20 kilometer. Sisanya 38 kilometer dikerjakan di 2019. Pengerjaannya menggunakan dana keistimewaan (danais) DIJ.

Lebar jalan jalur Bedah Menoreh direncanakan 7 meter. Terdiri dua lajur dan dua jalur. Saat ini lebarnya 5,5 meter. “Rencana jangka pendeknya menghubungkan jalan nasional ke Kebonrejo. Tahun ini terealisasi sekitar 12 kilometer,” ujar Nurcahyo.

Seluruh jalur Bedah Menoreh melintas di wilayah Kulonprogo. Ada pilihan trase masuk wilayah Kabupaten Purworejo. Namun pilihan ini akhirnya dibatalkan. Dengan alasan untuk mempermudah koordinasi dengan Pemprov DIJ.

Target pemanfaatan jalur Bedah Menoreh disamakan dengan operasional NYIA. Yakni April 2019. Setidaknya untuk mengakses objek-objek wisata yang ada di sepanjang jalur Bedah Menoreh.

Adapun beberapa alternatif trase yang mengemuka, di antaranya: rute NYIA-Kebonrejo-Kokap-Tegalrejo-Tirto-Tegalsari-Ngori (Purworejo)-Plono-Gerbosari-Nglambur-Pete (Borobudur). Ini jalur yang dinilai paling pas. Selain jarak tempuhnya terpendek, kontur wilayahnya relatif landai. Jalan eksisting pun sudah baik. Sedangkan kerentanan gerakan tanah relatif kecil.

Trase tersebut terhubung dengan pintu masuk NYIA. Statusnya sebagai jalan kolektor dengan lebar 2,5 meter + 7,5 meter + 2,5 meter. Khusus jalur Plono-Tritis-Nglambur dengan potensi wisata yang cukup besar direkomendasikan sebagai jalan feeder atau penghubung. “Kualifikasinya jalan lokal. Selebar 1  meter + 5,5 meter + 1 meter,” jelasnya.

Menyambut program Bedah Menoreh Dinas Pariwisata Kulonprogo juga sudah menyiapkan pengembangan potensi wisata. Dengan empat isu utama. Yakni pembangunan NYIA, penetapan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Borobudur dan pembentukan Badan Otoritas Borobudur, pengembangan jalur Bedah Menoreh, serta penyusunan Integrated Tourisem Master Plan. (tom/yog/rg/mo2)