JOGJA – Kafeela mengajak pelaku industri kreatif untuk mengembangkan bisnis yang halal. Kafeela merupakan kumpulan empat desainer muda Jogjakarta yang sama-sama mencintai batik. Mereka adalah Mudrika Paradise, Iffah M Dewi, Luffi Vadisa, dan Wening Angga.

Mereka hadir di salah satu sesi talkshow Jogja Halal Festival di JE. Mereka memiliki harapan besar penyelenggaraan JHF 2018 ini bisa menjadi salah satu syiar, bisnis yang halal di banyak sektor, termasuk busana muslim, di Indonesia maupun dunia.

Mudrika Paradise mengatakan, penamaan Kafeela ini merupakan singkatan dari empat nama fashion designer yang tergabung. Selain itu penamaan ini berasal dari kata Kafilah pada masa Rasulullah SAW, yaitu sebuah rombongan (dagang) di padang pasir yang terdiri dari iring-iringan unta. Harapannya semoga kami bisa menapaki jejak Sayyidah Khadijah yang berjuang melalui ekonomi.

Kafeela membahas beberapa hal tentang bisnis fashion muslim dengan bertema “Exploring Fashion Muslim Bussiness”. Keempat desainer membawakan sub tema masing-masing.

”Dari saya mengupas materi berjudul how to create a fashion collection concept ideas. Luffi Vadisa mengangkat tentang what, where and how of LUVIA ready to wear production. Sedangkan Wening membawakan materi how to manage customize fashion line. Terakhir, Iffah M Dewi dari Sogan Batik Indonesia akan memaparkan materi mengenai Instagram marketing for muslim fashion brand,” jelas Mudrika.

Dalam talkshow itu, Mudrika membagikan tips cara medesain dari awal/untuk pebisnis fesyen pemula. Salah satunya dengan memulai hal-hal yang basic. Yaitu dengan memprioritaskan kualitas cutting dan jahitan, mencoba dengan perpaduan warna grayscale terlebih dahulu, juga dengan styling yang sederhana tapi tidak pasaran.

”Setelah itu bisa terlewati dengan baik, lakukan step berikutnya dengan memadukan warna yang lebih kontras, jangan terburu-buru,” lanjut Mudrika.

Menurut Mudrika, plagiasi di dalam bisnis fashion tidak dapat dihindari. Mengambil inspirasi orang lain dikatakan Mudrika adalah hal yang lumrah karena banyak desainer yang masih mencari jati diri. Batas antara plagiasi dan terinspirasi bisa dikatakan bias, tapi bisa dilihat dari detail seperti jenis dan ukuran detail, ditempatkan dimana, kemudian juga warna, motif, dan siluet. Jika semua detail itu sama persis maka bisa dikatakan plagiasi.

Disamping itu Mudrika juga memaparkan tahapan-tahapan dalam mendesain mulai dari tips mencari inspirasi, memvisualkannya ke dalam mood board, hingga menerjemahkannya ke dalam unsur mode. Dikatakan Mudrika bahwa setelah bisa membuat konsep koleksi selanjutnya melakukan inovasi. (ila)