GUNUNGKIDUL – Kesadaran masyarakat mengenai kesehatan jiwa terus tumbuh. Itu ditandai dengan meningkatnya persentase pasien yang konsultasi ke psikiater.

”Sehari ada 20 pasien konsultasi masalah kejiwaan. aaat ini mulai ada keberanian dari warga untuk konsultasi dengan psikiater,” kata Ida Rochmawati, psikiater RSUD Wonosari di sela acara seminar Nasional Hari Kesehatan Mental Nasional dari Yayasan Kristen Untuk Kesehatan Umum (Yakkum) di Bangsal Sewokoprojo, Wonosari Rabu(10/10).

Dia menjelaskan, konsultasi masalah kejiwaan sangat penting. Ciri-ciri gangguan jiwa, seperti terlihat murung, mudah lelah dan hilang gairah hidup harus diantisipasi. Pada level depresi berat dapat muncul ide bunuh diri. Nah, meningkatnya konsultasi ini membantu upaya pemkab menekan angka kasus bunuh diri.

Untuk memudahkan masyarakat berkonsultasi, kata dia, sekarang sudah ada beberapa puskesmas yang sudah menjadikan kesehatan jiwa sebagai prioritas perhatian.

”Beberapa hari lalu ada pasien konsultasi, sehingga upaya bunuh diri bisa dicegah.,” ujarnya.

Dari pencermatan RSUD, tren bunuh diri mengalami pergeseran dari segi usia. Sebelumnya didominasi usia di atas 60 tahun. Belakangan jamak usia di bawah 60 yang bunuh diri.

Menurutnya, ada beberapa faktor penyebab bunuh diri. Antara lain, faktor biologi, psikologi, dan sosial. Salah satu faktor ini dapat menggiring pada depresi, sehingga diperluka penanganan serius.

”Jika depresi berat, dapat muncul dorongan dalam diri untuk mengakhiri hidup,” ucapnya.

Sementara itu Kepala Seksi Kesehatan dan Rujukan Kesehatan Khusus Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan DIJ dr Gregorius Anung Trihadi mengatakan, saat ini ada 3 rumah sakit di DIJ yang dapat melakukan rawat inap untuk masalah gangguan jiwa.

”Yaitu, RS Ghrasia, RSUP Sardjito, dan Puri Nirmala, jadi akses pelayanan gangguan jiwa secara paripurna belum bisa di Gunungkidul,” katanya.

Pengajar rehabilitasi Yakkum Siswaningtyas mengatakan hal senada. Dia melihat, banyaknya kasus bunuh diri di Gunungkidul dipengaruhi oleh banyak faktor. Dengan begitu, dibutuhkan pendampingan dan rehabilitasi berbasis masyarakat. (gun/zam/zl/mo2)